<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahlulkisa</title>
	<atom:link href="http://ahlulkisa.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahlulkisa.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Feb 2012 05:41:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>IMAN DAN ISLAM</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/iman-dan-islam.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/iman-dan-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 05:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Akidah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Swt]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[Beriman Kepada Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Dorongan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitrah Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kiamat]]></category>
		<category><![CDATA[Hati Nurani]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Abu Hanifah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Malik]]></category>
		<category><![CDATA[IMAN DAN ISLAM]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Dua]]></category>
		<category><![CDATA[kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[kaligrafi lafadz Allah SWT]]></category>
		<category><![CDATA[Keimanan]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Lisan]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Pandangan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Qadha Dan Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Rantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2268</guid>
		<description><![CDATA[Dua Mata Rantai Yang Tak Terpisahkan Dalam pandangan islam, dalam diri manusia terdapat beberapa unsur yang diistimewakan Allah SWT, utamanya terkait dengan keimanan. Sayangnya, hal itu tidak mendapat perhatian yang semestinya. Sering dilupakan bahwa perilaku keislaman harus didasari oleh keimanan yang teguh. Islam adalah perbuatan lahir yang harus berdasar keyakinan dan keimanan yang kuat . [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dua Mata Rantai Yang Tak Terpisahkan</strong></p>
<p>Dalam pandangan islam, dalam diri manusia terdapat beberapa unsur yang diistimewakan Allah SWT, utamanya terkait dengan keimanan. Sayangnya, hal itu tidak mendapat perhatian yang semestinya. Sering dilupakan bahwa perilaku keislaman harus didasari oleh keimanan yang teguh. Islam adalah perbuatan lahir yang harus berdasar keyakinan dan keimanan yang kuat . Fitrah manusia mendorongnya berbuat sesuatu berdasarkan dorongan hati nurani dan dorongan manusiawi lainnya. Karenanya, tindakan manusia yang tidak memiliki motivasi yang benar pada akhirnya hanya akan melahirkan dampak buruk. Berpijak dari hal ini, sudah seharusnyalah <strong>iman</strong> menjadi landasan seluruh tingkah laku seorang muslim.</p>
<p><span id="more-2268"></span></p>
<p><strong>Makna Iman</strong></p>
<p>Arti iman dalam tinjauan bahasa adalah percaya, setia, melindungi dan menempatkan sesuatu ditempat yang aman (pada tempatnya). Terkait dengan akidah yang dimaksud adalah iman yang bermakna pembenaran terhadap suatu hal; pembenaran yang hakekatnya tidak dapat dipaksakan (intimidasi) oleh siapapun, karena iman terletak dalam hati yang hanya bisa dikenali dan dipahami secara pribadi. Seseorang tidak dapat mengetahui hakkikat keimanan orang lain, apalgi memaksakannya. Dalam syara`, iman diartikan sebagai pembenaran terhadap ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW, yakni beriman kepada Allah SWT, para Malaikat, para Nabi, para Rasul, hari kiamat, qadha dan qadar. Demikian makna iman menurut hadits Baginda Nabi SAW.</p>
<p>Dalam menjelaskan iman, beberapa ulama Ahlussunnah memiliki pandangan yang berbeda. Menurut Imam Malik, Imam Syafi`i, Imam Ahmad, Imam Awza`i, imam Ishaq bin al-Rahawayh,  makna iman mencakup keyakinan dalam hati dan pengakuan dengan lisan bahwa ajaran yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad SAW adalah kebenaran (haq) yang kemudian hal itu ditunjukkan dalam amal perbuatan. Sedang menurut Imam Abu Hanifah, sebagaiman dikutip dalam kitab al-Thahawi, amal perbuatan tidak termasuk dalam iman. Menurut beliau; iman adalah pengakuan lisan dan pembenaran hati. Sementara Imam al-Maturudi berpendapat bahwa; hakikat keimanan adalah pembenaran hati, sementara pengakuan lisan merupakan pilar (rukun) tambahan dalam keimanan, bukan merupakan unsur utama. Namun demikian, beberapa pandangan –yang nampak berbeda- sepakat bahwa; orang yang tidak meyakini kebenaran Islam adalah orang kafir, sementara orang yang tidak menjalankan perintah agama adalah fasik. Sekalipun pandangan mayoritas ahli hadits adalah bahwa; amal perbuatan merupakan perbuatan dari iman, dengan meninggalkannya tidak berarti seseorang menjadi kafir, namun ia kehilangan kesempurnaan iman. Dengan demikian substansi beberapa pendapat diatas adalah sama.</p>
<p>Namun demikian, beriman dalam arti meyakini kebenaran syariat yang dibawa Baginda Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang bersifat qalbiyah atau batin yang tidak dapat diketahui oleh sarana lahir. Untuk mengetahuinya diperlukan sarana yang membuatnya dapat dijangkau. Hal itu adalah mengucapkan kalimat syahadah yang kemudian dilanjutkan dengan pengamalan ajaran islam. Kesempurnaan iman seseorang diukur melalui keteguhan hati, ucapan dan amal perbuatan yang sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Perbedaan dalam memandang tiga komponen keimanan (pembenaran dengan hati, ungkapan dengan lisan dan pembuktian dengan pengamalan) berakibat perbedaan dalam memandang keselamatan seseorang diakhirat. Imam Al-Ghazali menjelaskan secara baik dengan penjelasan secara bertingkat:</p>
<ol>
<li>Orang yang melakukan seluruh pilar keimanan, semua ulama sepakat bahwa diakhirat kelak ia akan memperoleh Surga.</li>
<li>Seseorang yang membenarkan dengan hati dan mengucapkan dengan lisan, namun hanya menjalankan sebagian perintah agama dan hanya menjauhi sebagian larangannya. Menurut Muktazilah, jika dia melakukan dosa besar berarti  ia telah keluar dari keimanannya, berada diantara mukmin dan kafir. Bukan golongan beriman juga bukan golongan kafir dan diakhirat kelak dia berada ditengah-tengah antara dua posisi, antara surga dan neraka. Tapi menurut Ahlussunnah Wal jamaah; keputusannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Manusia tidak mempunyai hak untuk menentukannya.</li>
<li>Golongan yang membenarkan dalam hati dan bersaksi dengan lisan, akan tetapi sama sekali tidak menjalankan perintah agama. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat.  Abu Thalib Al-Makki mengatakan bahwa; amal perbuatan termasuk syarat iman. Dengan demikian tidak ada iman tanpa amal, sebab amal adalah komponen iman. Pendapat Abu Thalib Al-Makki dilandasi oleh ayat Al-Quran surat Al-Buruj ayat 11: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.”. Imam Al-Ghazali justru berkomentar bahwa; ayat ini menunjukkan pembedaan iman dan amal shalih. Dalam ayat ini, iman dan amal diposisikan dalam kerangka makna yang berbeda. Pendapat yang lain menyatakan bahwa; amal perbuatan bukan bagian integral dari iman, melainkan penyempurna saja. Artinya, seseorang yang beriman tapi tidak beramal, keputusannya kembali pada kebijakan Allah SWT diakhirat kelak. Sebab, menurut pendapat ini, jika amal dikategorikan sebagai bagian integral dari iman, tentu seseorang yang tidak beramal dinilai sebagai orang kafir dan pelakunya berada di Neraka selama-lamanya. Pendapat ini adalah pandangan mayoritas ulama Ahlussunnah.</li>
<li> Orang yang membenarkan dalam hati, namun sebelum sempat mengakui dengan ucapan ia terlebih dulu meninggal dunia. Menurut Ahlussunnah Wal jamaah, dia mati dalam keadaan beriman disisi Allah SWT berdasarkan firman Allah SWT dalam hadits qudsi, “Akan keluar dari Neraka seseorang yang dalam hatinya masih tersimpan iman (meski) seberat semut”. Sementara kelompok kedua mengatakn bahwa; dia bukan termasuk orang beriman dan akan kekal selamanya di Neraka. Mereka berpandangan bahwa pengakuan dengan ucapan merupakan syarat mutlak bagi keimanan seseorang.</li>
<li>Orang yang membenarkan (beriman) tetapi menunda pengucapan Syahadat. Padahal dia tahu bahwa Syahadat adalah syarat seseorang dapat disebut seorang muslim. Orang seperti ini oleh Ahlussunnah disamakan dengan orang yang meninggalkan shalat. Di akhirat akan mendapat siksa walaupun tidak selamanya. Sedang Murji`ah (golongan yang berpendapat bahwa; perbuatan durhaka tidak memberi pengaruh apapun apabila seseorang beriman. Sebagaimana ketaatan tidak berguna bila yang melakukan orang kafir), berpandangan bahwa; orang seperti itu tidak akan masuk Neraka, tapi dipastikan masuk Surga. Pandangan ini berbeda dengan pandangan mayoritas umat islam.</li>
<li>Seseorang yang mengucapkan syahadat, namun sebenarnya hatinya mengingkari. Orang yang melakukan tindakan ini diancam dengan Neraka, karena sebenarnya ia tergolong orang kafir, walau selama hidupnya dia diakui sebagai seorang muslim –karena telah mengucap dua kalimat syahadat-, namun diakhirat kelak ia akan kekal di jurang Jahannam. Orang yang memiliki karateristik semacam ini dikenal sebagai orang Munafik. Yakni seseorang yang menggunakan ungkapan syahadat untuk memperoleh keamanan duniawi semata.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wallahu A`lam&#8230;</p>
<p>bersambung</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/diterimakah-amalku.html" rel="bookmark" class="crp_title">Diterimakah Amalku?</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/langkah-awal-mendekatkan-diri-kepada-allah-swt.html" rel="bookmark" class="crp_title">Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/makna-islam.html" rel="bookmark" class="crp_title">MAKNA ISLAM</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/pembahasan-tentang-islam.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pembahasan tentang Islam</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/dahsyatnya-padang-mahsyar-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">DAHSYATNYA PADANG MAHSYAR (1)</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2268&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/iman-dan-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Habib Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/foto-habib-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/foto-habib-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 23:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Muhammad Rizieq Shihab Lc]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Al Muhajir]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Asghar]]></category>
		<category><![CDATA[Baqir]]></category>
		<category><![CDATA[Bin Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Bin Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Binta]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Al Habib]]></category>
		<category><![CDATA[foto foto habaib.]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Habib]]></category>
		<category><![CDATA[foto habib habib]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Habib Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc]]></category>
		<category><![CDATA[foto para habaib]]></category>
		<category><![CDATA[gambar habaib]]></category>
		<category><![CDATA[haba ib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[habib foto]]></category>
		<category><![CDATA[Khala]]></category>
		<category><![CDATA[Klik Disini]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Bin]]></category>
		<category><![CDATA[Muqaddam]]></category>
		<category><![CDATA[Nasab]]></category>
		<category><![CDATA[para habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Qasam]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Shihab]]></category>
		<category><![CDATA[Zainal Abidin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2261</guid>
		<description><![CDATA[Nasabnya hingga ke Rasulullah S A W. Nasab Habib Muhammad Rizieq Syihab bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al-Akbar bin Abdurrahman bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Segaf [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nasabnya hingga ke Rasulullah S A W.<br />
Nasab Habib Muhammad Rizieq Syihab bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Abdullah bin Husein bin Muhammad bin Syeikh bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Syihabuddin Al-Asghar bin Abdurrahman Al-Qadhi bin Ahmad Syihabuddin Al-Akbar bin Abdurrahman bin Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Segaf …bin Muhammad Maulad Daawilah bin Ali bin Alwi Ibnul Faqih bin Muhammad Al-Faqihil Muqaddam bin Ali Walidil Faqih bin Muhammad Shahib Murbath bin Ali Khala’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhammad Djamaluddin bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra binta Rasulullah Muhammad SAW.<br />
<span id="more-2261"></span></p>
<p><a href="http://ahlulkisa.com/wp-content/uploads/2012/02/habib-rizieq.jpg">==&gt; Klik disini untuk memperbesar foto</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/biografi-ringkas-habib-muhammad-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc.html" rel="bookmark" class="crp_title">Biografi Ringkas Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-muhammad-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-muhammad-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-muhammad-bin-husein-al-idrus-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Muhammad bin Husein Al Idrus</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-al-maghfurlah-al-habib-abdul-qadir-bin-ahmad-assegaf-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Al Maghfurlah Al Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2261&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/foto-habib-rizieq-bin-husein-bin-muhammad-shihab-lc.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinar Sahabat Penghias Langit</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/sinar-sahabat-penghias-langit.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/sinar-sahabat-penghias-langit.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 19:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Swt]]></category>
		<category><![CDATA[Arti Syukur]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislami]]></category>
		<category><![CDATA[Ashar]]></category>
		<category><![CDATA[Berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kafir]]></category>
		<category><![CDATA[Kalian]]></category>
		<category><![CDATA[Kebenaran]]></category>
		<category><![CDATA[Mendo]]></category>
		<category><![CDATA[Penyayang]]></category>
		<category><![CDATA[Rabb]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Semesta]]></category>
		<category><![CDATA[Sinar]]></category>
		<category><![CDATA[Sinar Sahabat Penghias Langit]]></category>
		<category><![CDATA[Ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2255</guid>
		<description><![CDATA[Betapa agung keutamaan yang diperoleh para sahabat Baginda Rasul SAW, mereka r.a melihat Baginda Nabi SAW, dalam rupa yang sempurna, serta mereka r.a meraih kedudukan itu, tanpa usaha yang berarti. Pagi hari mereka masih kafir, waktu masuk ashar mereka telah mencapai derajat Siddiqiyyah. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Para sahabatku ibarat bintang-bintang dilangit yang manapun kalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Betapa agung keutamaan yang diperoleh para sahabat Baginda Rasul SAW, mereka r.a melihat Baginda Nabi SAW, dalam rupa yang sempurna, serta mereka r.a meraih kedudukan itu, tanpa usaha yang berarti. Pagi hari mereka masih kafir, waktu masuk ashar mereka telah mencapai derajat <strong>Siddiqiyyah</strong>.</p>
<p><span id="more-2255"></span></p>
<p>Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Para sahabatku ibarat bintang-bintang dilangit yang manapun kalian ikuti , pasti kalian akan memperoleh petunjuk”&gt; (H.R. Baihaqi)</p>
<p>Adapun orang-orang yang datang setelah para sahabat, telah dilukiskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya tentang mereka:</p>
<p>Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: &#8220;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang&#8221;. (Q.S. Al-Hasyr: 10)</p>
<p>Allah SWT memuji kelompok ini, karena mereka mendo`akan orang-orang yang lebih dulu beriman. Oleh karena itu HATI-HATILAH..!!, jangan sampai kita mencaci atau berbicara buruk tentang mereka. Ada sebagian orang yang lancang merendahkan sebagian sahabat ra, perbuatannya tersebut diakibatkan karena kurangnya dalam memahami arti syukur, atas apa-apa yang telah sampai kepadanya. Ketahuilah.. kebenaran terletak dalam mengikuti Salafusshalih, sebab mereka sangat mengerti cara membalas budi. Setelah Allah SWT mengutus Baginda Rasulullah SAW sebagai rahmat untuk alam semesta, para sahabat mengambil sunnah dari beliau SAW, mencontoh perilaku beliau SAW, ucapan dan amal beliau SAW, hingga akhirnya syariat dapat berdiri tegak. Cahaya Risalah Baginda Rasulullah SAW terpancar keseluruh belahan bumi. Apakah ada manusia yang lebih utama dari para sahabat ra, yang makan bersama Baginda Rasulullah SAW, minum bersama Baginda Rasulullah SAW, berperang dan berjihad bersama Baginda Rasulullah SAW ?.</p>
<p>Para Salafusshalih, jika disebutkan sesuatu yang terjadi antara sahabat, mereka membaca firman Allah SWT:</p>
<p>&#8220;Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang&#8221;. (Q.S. Al-Hasyr: 10)</p>
<p>Semoga Allah SWT mengaruniakan kita kecintaan kepada Baginda Rasulullah SAW, keluarganya, serta para sahabatnya dan orang-orang yang telah mengikuti sunnah-sunnahnya beliau SAW, amin, amin, amin, ya Rabbal `alamin..</p>
<p>Wallahu A`lam..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/ratapan-doa-seorang-hamba.html" rel="bookmark" class="crp_title">Ratapan Doa Seorang Hamba</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/nurul-musthafa.html" rel="bookmark" class="crp_title">Nurul Musthafa</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/rindu-baginda-rasulullah-saw-4.html" rel="bookmark" class="crp_title">RINDU BAGINDA RASULULLAH SAW (4)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/dahsyatnya-siksa-neraka-5.html" rel="bookmark" class="crp_title">Dahsyatnya Siksa Neraka (5)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/rindu-baginda-rasulullah-saw-6.html" rel="bookmark" class="crp_title">RINDU BAGINDA RASULULLAH SAW (6)</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2255&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/sinar-sahabat-penghias-langit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhlak Ahlul-Bait</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/akhlak-ahlul-bait.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/akhlak-ahlul-bait.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 18:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Habib Umar bin Hafidz]]></category>
		<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlak Ahlul-Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Amarah]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislami]]></category>
		<category><![CDATA[Batasan]]></category>
		<category><![CDATA[Berdiri]]></category>
		<category><![CDATA[Caci]]></category>
		<category><![CDATA[Emosi]]></category>
		<category><![CDATA[Hakikat Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Hawa Nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Keji]]></category>
		<category><![CDATA[Ladang]]></category>
		<category><![CDATA[Memancing]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Sikap]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>
		<category><![CDATA[Youtube]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2250</guid>
		<description><![CDATA[Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mu`min tidak melaknat, menuduh dan berkata keji, aku tidak diutus sebagai pelaknat, ataupun berteriak-teriak dipasar” Beliau SAW bukan pencaci bukan pula pelaknat, begitu juga pengikut beliau dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang, tidak juga pencaci yang mencaci bahkan terhadap orang awam, apalagi terhadap para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mu`min tidak melaknat, menuduh dan berkata keji, aku tidak diutus sebagai pelaknat, ataupun berteriak-teriak dipasar”</p>
<p><span id="more-2250"></span></p>
<p>Beliau SAW bukan pencaci bukan pula pelaknat, begitu juga pengikut beliau dari kalangan ulama, tidak ada diantara mereka pelaknat yang suka melaknat orang, tidak juga pencaci yang mencaci bahkan terhadap orang awam, apalagi terhadap para ulama, terlebih lagi para shahabat dan tabi`in, karena mereka ladang penghargaan dan basis penghormatan, metode yang baik dan benar, tidak ada caci maki sama sekali, karena Nabi SAW tidak diutus untuk mencaci dan memaki, tidak pula seorang wali bertugas untuk mencaci atau memaki, tidak pula berdiri hakikat ilmu dengan caci maki sama sekali.</p>
<p>Tidaklah berdiri satu madzhab dengan caci maki kecuali madzhab iblis, dan madzhab pengikut iblis disetiap waktu dan masa, merekalah yang selalu mentradisikan caci maki terhadap manusia, melaknat manusia, memancing emosi dan menanam kebencian diantara umat manusia. Adapun para Nabi, Ulama dan para wali, mereka menebar kasih, menebar persaudaraan, menebar akhlaq, menebar kesucian hati, menebar sikap menghargai, selalu menempati batasan, mengekang hawa nafsu, bersikap sabar dan menahan amarah, inilah jalan yang ditempuh oleh para Nabi, Ulama, para wali dan shalihin.</p>
<p>Wallahu A`lam..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber youtube</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/melawan-hawa-nafsu.html" rel="bookmark" class="crp_title">Melawan Hawa Nafsu</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/ilmu-adalah-fondasi-dan-amal-adalah-bangunan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Ilmu Adalah Fondasi Dan Amal Adalah Bangunan</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wasiat-imam-ali-zainal-abidin-r-a.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wasiat Imam Ali Zainal Abidin R.A</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/sinar-sahabat-penghias-langit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Sinar Sahabat Penghias Langit</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/nisfu-syaban.html" rel="bookmark" class="crp_title">Nisfu Sya`ban</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2250&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/akhlak-ahlul-bait.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunci-Kunci Surga</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/kunci-kunci-surga.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/kunci-kunci-surga.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 08:26:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Antara]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[Berpuasa]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Hak]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Jenazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jika]]></category>
		<category><![CDATA[Kalian]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kunci]]></category>
		<category><![CDATA[Kunci-Kunci Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Neraka]]></category>
		<category><![CDATA[Pada Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Saya]]></category>
		<category><![CDATA[Siapa]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Sulit]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2245</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan surga. Rasanya tidak ada seorangpun di antara kita yang mau masuk neraka. Bukan demikian? Suatu saat, setelah Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat dzuhur, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa pada hari ini ?” Semua orang terdiam kecuali Abu Bakar yang menjawab, “ Saya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasanya tidak ada seorangpun yang tidak menginginkan surga. Rasanya tidak ada seorangpun di antara kita yang mau masuk neraka. Bukan demikian?<br />
<span id="more-2245"></span><br />
Suatu saat, setelah Rasulullah SAW selesai mengerjakan shalat dzuhur, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa pada hari ini ?”<br />
Semua orang terdiam kecuali Abu Bakar yang menjawab,<br />
“ Saya, wahai Rasulullah.”<br />
Rasul bertanya lagi,<br />
“ Siapakah yang telah bersedekah kepada kaum papa pada hari ini ?” Lagi-lagi tidak ada yang menjawab selain Abu Bakar,<br />
“Saya, wahai Rasulullah.”<br />
Untuk yang ketiga kalinya, Rasul bertanya,<br />
“Siapakah yang telah menjenguk orang sakit hari ini ?”<br />
Tidak ada yang menjawab selain Abu Bakar,<br />
“Saya, wahai Rasulullah.”<br />
Rasul bertanya lagi,<br />
“ Siapakah yang telah mengantarkan jenazah pada hari ini ?” Abu bakar menjawab,<br />
“ Saya, wahai Rasulullah.”<br />
Rasul bertanya kembali,<br />
“Siapakah yang telah mendamaikan dua orang yang berselisih pada hari ini ?” Abu Bakar menyahut,<br />
“ Saya, wahai Rasulullah.”</p>
<p>Sejurus kemudian Rasul SAW bersabda,<br />
“ Tidaklah seorang mukmin mengerjakan satu kebaikan di antara perbuatan tersebut kecuali satu pintu dari pintu-pintu surga kelak akan berseru di hari kiamat “ Mari masuklah ke sini.”</p>
<p>Abu Bakar bertanya,<br />
“ Bagaimana jika seseorang itu mengerjakan semuanya ?”<br />
Rasul menjawab,<br />
“ Sesungguhnya di antara sebagaian umatku ada yang dipanggil oleh pintu-pintu surga yang ada secara bersamaan dan engkau adalah orang yang pertama kali yang dipanggil, wahai Abu Bakar. ”</p>
<p>Menjadi seseorang sebagaimana Abu Bakar bukan perkara mudah. Selain ia telah menunaikan puasa tak lupa ia juga menunaikan hak-hak saudaranya. Abu Bakar merupakan sosok yang mempunyai kompentensi yang sulit disaingi oleh orang lain.</p>
<p>Lima perkara yang dilakukan olehnya, menurut pandangan Nabi, adalah kunci-kunci surga: berpuasa (sunnah), bersedekah, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan mendamaikan perselisihan.</p>
<p>Duhai, berapa banyak dari kita yang rakus? Berapa banyak dari kita yang telah bersedekah meski berapa rupiah? Berapa banyak dari kita yang enggan menjenguk orang sakit, mengantar jenazah? Dan pertanyaan terakhir yang mesti kita jawab adalah, sejauh mana upaya kita mendamaikan permusuhan dan perselisihan yang terjadi di antara umat manusia? Atau, justeru kita tidak berrpartisipasi dalam mengurai dan menyelesaikan konflik tersebut?</p>
<p>Tahukah kita, kiat Abu Bakar meraih itu semua? Di dorong rasa penasaran, Imam Ali bertanya kepadanya, ” Dengan apa engkau mencapai kedudukan mulia sehingga engkau mengalahkan kami?”</p>
<p>Abu Bakar menjawab, ” Dengan Lima perkara :<br />
(1) Saya mendapati Umat manusia terbelah menjadi dua kelompok: Pencari dunia dan pencari akhirat. Saya memilih menjadi pencari Tuhan. (2) Sejak saya masuk islam, saya tak lagi merasakan kelezatan dunia sebab ma’rifah kepada Allah telah membuatku lupa darinya. (3) Sejak saya masuk Islam, tak pernah lagi saya merasakan kesegaran air dunia sebab Mahabbah kepada Allah telah memuaskan rasa dahagaku. (4) Tiap kali saya menghadapi dua pilihan: Amal untuk kebahagiaan dunia dan amal untuk kebahagiaan akhirat, saya memilih amal untuk kebahagiaan akhirat. (5) Saya menemani Nabi SAW dan berusaha menjadi sahabat yang baik bagi beliau.”</p>
<p>Ilustrasi di atas hanya setetes dari samudera hikmah yang bisa membuat hidup kita semakin baik; baik buat diri kita dan baik untuk orang lain. Semoga kita terpacu untuk meraih kunci-kunci Syurga tersebut. Wallahu A’lam Bishawaab</p>
<p>Sumber Catatan Facebook Habib Ali Akbar Bin Agil</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/rindu-baginda-rasulullah-saw-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">RINDU BAGINDA RASULULLAH SAW (1)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/didiklah-anak-kalian-untuk-mencintai-agama.html" rel="bookmark" class="crp_title">Didiklah Anak Kalian Untuk Mencintai Agama</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/rindu-baginda-rasulullah-saw-5.html" rel="bookmark" class="crp_title">RINDU BAGINDA RASULULLAH SAW (5)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/potret-aslafunas-shalihin-dan-kisah-kisahnya.html" rel="bookmark" class="crp_title">Potret Aslafunas Shalihin dan Kisah-kisahnya</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wanita-shalihah-7.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wanita Shalihah (7)</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2245&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/kunci-kunci-surga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manaqib Al Maghfurlah Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-’Atthas</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-al-habib-ahmad-bin-hasan-al-%e2%80%99atthas.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-al-habib-ahmad-bin-hasan-al-%e2%80%99atthas.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 19:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Agar]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Alhamdulillah]]></category>
		<category><![CDATA[Amat]]></category>
		<category><![CDATA[biografi]]></category>
		<category><![CDATA[biografi al habib]]></category>
		<category><![CDATA[biografi habaib]]></category>
		<category><![CDATA[biografi habib]]></category>
		<category><![CDATA[biography]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Karomah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolam]]></category>
		<category><![CDATA[Kontan]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu]]></category>
		<category><![CDATA[Mampu]]></category>
		<category><![CDATA[manaqib al habib]]></category>
		<category><![CDATA[Manaqib Al Maghfurlah Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-’Atthas]]></category>
		<category><![CDATA[manaqib habaib]]></category>
		<category><![CDATA[manaqib habib]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Dalam]]></category>
		<category><![CDATA[Maut]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Persis]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[profil al habib]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Sangat]]></category>
		<category><![CDATA[Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Terkenal]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2235</guid>
		<description><![CDATA[Mata Bathin Seorang Wali. Al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas Seorang di antara sejumlah Waliyullah asal Hadramaut, Yaman, ialah al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas. Ulama besar ini lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada hari Selasa 19 Ramadhan 1257 H/1837 M. Karamahnya yang sangat terkenal ialah, Beliau mampu melihat secara bathiniah, sementara penglihatan lahiriahnya tidak dapat melihat. Sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mata Bathin Seorang Wali.</strong></p>
<p>Al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas<br />
Seorang di antara sejumlah Waliyullah asal Hadramaut, Yaman, ialah al-Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas. Ulama besar ini lahir di Huraidhah, Hadramaut, pada hari Selasa 19 Ramadhan 1257 H/1837 M. Karamahnya yang sangat terkenal ialah, Beliau mampu melihat secara bathiniah, sementara penglihatan lahiriahnya tidak dapat melihat. Sejak masih dalam penyusuan ibundanya, beliau terserang penyakit mata yang sangat ganas sehingga buta.<br />
<span id="more-2235"></span><br />
Kemampuan itu Beliau miliki sejak masih kecil hingga berusia lanjut. Suatu hari beliau memenuhi undangan salah seorang santrinya di Mesir. Ketika sedang duduk bersama tuan rumah, tiba-tiba beliau meminta kepada salah seorang hadirin membuka salah satu jendela, karena semua jendela tertutup.<br />
“Angin di luar sangat kencang” kata orang itu. Tapi Habib Ahmad tetap mendesak agar jendela di buka.[more]<br />
Ternyata di bawah jendela itu anak sang tuan rumah tengah berjuang melawan maut, tercebur ke dalam kolam persis di bawah jendela. Tentu saja seluruh hadirin terutama tuan rumah panik. Kontan Habib Ahmad berseru agar orang-orang segera menyelamatkannya. Dan, alhamdulillah, akhirnya anak itu selamat. Itulah salah satu karomah Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas, mampu melihat sesuatu yang terjadi dengan mata bathin, yang justru tidak terlihat oleh orang biasa.<br />
Ketika masih dalam penyusuan ibundanya, beliau menderita sakit mata yang sangat ganas hingga buta. Ibundanya amat sedih, lalu membawa anaknya kepada al-Habib Shaleh bin ‘Abdullah al-’Atthas, salah seorang ulama’ besar di zamannya. Sang ibu meletakkan bayi mungil itu di depannya lalu menangis,<br />
“Apa yang dapat kami perbuat dengan anak buta kami..?”<br />
Habib Shaleh pun segera menggendong bayi itu lalu memandanginya dengan tajam. Setelah berdoa, tak lama kemudian beliau berkata,<br />
“Anak ini akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Masyarakat akan berjalan di bawah naungan dan keberkahannya. Ia akan mencapai maqom kakeknya, Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas.”<br />
Mendengar kata-kata yang menyejukkan itu, sang ibu terhibur. Maka sejak itu Habib Ahmad yang masih bayi mendapat perhatian khusus dari Habib Shaleh. Manakala melihat si kecil berjalan menghampirinya, Habib Shaleh pun berkata dengan lembut,<br />
“Selamat datang, pewaris Sirr (hikmah kebijaksanaan) Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas.” (al-Habib ‘Umar bin ‘Abdurrahman al-’Atthas, kakeknya, adalah penyusun Ratib al-’Atthas yang sangat termasyhur).<br />
Lalu Habib Shaleh mengangkat anak kecil itu untuk di boncengkan di kuda tunggangannya.<br />
Sejak usia lima tahun, Habib Ahmad sudah belajar mengaji kepada kakeknya yang lain, al-Habib ‘Abdullah. Setelah itu ia belajar ilmu agama kepada Faraj bin ‘Umar Sabbah, salah seorang murid Habib Hadun bin ‘Ali bin Hasan al-’Atthas, dan Habib Sholeh bin ‘Abdullah al-’Atthas, yang juga termasyhur sebagai ulama.<br />
Seperti kebanyakan para ulama asal Timur Tengah, Habib Ahmad juga memiliki daya ingat luar biasa. Beliau mampu menghafal sesuatu hanya dengan sekali dengar. Setiap kali ada ulama datang ke Huraidhah, beliau selalu memanfaatkan kesempatan itu untuk menimba ilmu dari mereka,<br />
“Aku selalu menghormati dan mengagungkan para ulama salaf yang datang ke kotaku,” kata beliau.<br />
Semua makhluk memang memiliki mata yang mampu melihat, memandang, mengamati, tapi hanya hamba Allah yang di persiapkan oleh Allah SWT untuk dekat dengan-Nya yang mendapat anugerah mata hati (bashirah).<br />
Cerita al-Habib ‘Umar bin Muhammad al-’Atthas mengenai karamah Habib Ahmad sangat menarik.<br />
“Ketika masih kecil, aku suka bermain dengan Habib Ahmad di jalanan. Usia kami sebaya. Ketika itu aku sering mendengar orang-orang memperbincangkan kewalian dan mukasyafah (kata benda untuk Kasyaf, kemampuan melihat hal-hal yang tidak kasat mata) Habib Ahmad. Namun, aku belum pernah membuktikannya,” katanya.<br />
“Suatu hari aku berusaha membuktikan cerita orang-orang itu. Jika ia seorang wali, aku akan membenarkannya, tapi jika hanya kabar bohong, aku akan membuatnya menderita. Kami menggali lubang lalu kami tutup deogan tikar. Setelah tiba saat bermain, aku mengajak Habib Ahmad berlomba lari. Ia kami tempatkan di tengah tepat ke arah lubang itu. Ajaib…!!! Ketika sudah dekat dengan lubang itu, ia melompat seperti seekor Kijang. Awalnya kami kira kejadian ini hanya kebetulan. Kamipun mengajaknya berlomba lagi. Tapi, ketika sampai di depan lubang, ia melompat lagi. Ketika itu kami sadar bahwa ia memang bukan manusia biasa,” kata Habib ‘Umar lagi.<br />
Ketika berusia 17 tahun, Habib Ahmad menunaikan ibadah haji. Kedatangannya di Makkah di sambut oleh al-Allamah Mufti Haramain, as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, yang menganjurkannya untuk menuntut ilmu al-Qur’an kepada seorang ulama besar di Makkah, Syaikh ‘Ali bin Ibrahim as-Samanudi. Setelah hafal al-Qur’an, Habib Ahmad mempelajari berbagai jenis gaya Qiraat al-Qur’an.<br />
Ketika membuka taklim di Masjidil Haram, as-Sayyid Zaini Dahlan memberi kesempatan kepada Habib Ahmad untuk membacakan hafalan al-Qur’an-nya. Mereka memang sangat akrab, sering berziarah ke berbagai tempat bersejarah di Makkah dan Madinah. Pada 1279 H/sekitar 1859 M, ketika usia beliau 22 tahun, Habib Ahmad pulang dan mengajar serta berdakwah di Hadramaut.<br />
Berkhalwat di Huraidhah<br />
Guru yang berjasa mendidik Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas antara lain:<br />
• al-Habib Abu Bakar bin ‘Abdullah al-’Atthas.<br />
• al-Habib Shaleh bin ‘Abdullah al-’Atthas.<br />
• al-Habib Ahmad bin Muhammad bin ‘Alwi al-Muchdhar.<br />
• al-Habib Ahmad bin ‘Abdullah bin ‘Idrus al-Bar.<br />
• al-Habib ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Umar bin Segaf as-Seggaf.<br />
• al-Habib Muhammad bin ‘Ali bin ‘Alwi bin ‘Abdillah as-Seggaf.<br />
• al-Habib Muhammad bin Ibrahim bin Idrus Bilfaqih.<br />
Sementara guru-gurunya dari Makkah dan Madinah adalah:<br />
o al-Habib Muhammad bin Muhammad as-Seggaf.<br />
o al-Habib Fadhl bin ‘Alwi bin Muhammad bin Sahl Maula Dawilah.<br />
o as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.<br />
Sedangkan kitab-kitab yang beliau pelajari (lewat pendengaran), dengan bimbingan Habib Shaleh bin Abdullah al-’Atthas antara lain, Idhahu Asrari Ulumil Muqorrobin, ar-Risalatul Qusyairiyyah, as-Syifa’ karya Qodhi ‘Iyadh dan Mukhtashar al-Adzkar karya asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bahraq. Sejak berguru kepada Habib Shaleh, beliau tidak pernah meninggalkan majelis itu, hingga sang wafat pada 1279 H/sekitar 1859 M.<br />
Pada 1308 H/kurang lebih 1888 M ketika berusia 51 tahun, beliau berkunjung ke Mesir di temani empat muridnya, Syaikh Muhammad bin Awudh Ba Fadhl, Abdullah bin Shaleh bin Ali Nahdi, Ubaid Ba Flai’ dan Sayid Muhammad bin Utsman bin Yahya Ba Alawi. Beliau di sambut oleh ulama terkemuka, Umar bin Muhammad Ba Junaid. Selama 20 hari di Mesir beliau sempat mengunjungi Syaykhul Islam Muhammad al-Inbabiy dan beberapa ulama termasyhur lainnya di Kairo.<br />
Beliau melanjutkan perjalanan ke Madinah untuk berziarah ke makam Rosul Allah SAW, beribadah Umrah ke Makkah lalu menuju Jeddah, Aden, Mukalla, kemudian pulang. Pada 1321 H/sekitar 1901 M, ketika berusia 64 tahun beliau berkunjung ke Tarim dan singgah di Seiwun untuk bertemu dengan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, penyusun Maulid Simtud Duror. Ketika itu Habib Ali minta agar Habib Ahmad memberikan ijazah kepada hadirin.<br />
Pada usia 68 tahun, sekali lagi ia menunaikan ibadah Haji, sekalian berziarah ke makam Rosul Allah SAW. Pulang dari Tanah Suci, beliau banyak berkhalwat di Huraidhah. Menghabiskan sisa-sisa usia untuk beribadah dan berdakwah. Beliau wafat pada hari Senin malam 6 Rajab 1334 H/kurang lebih 1914 M dalam usia 77 tahun.<br />
Banyak murid Habib Ahmad yang di belakang hari berdakwah di Indonesia. Seperti, al-Habib Ali al-Habsyi (Kwitang, Jakarta), al-Habib Syekh bin Salim al-’Atthas (Sukabumi, Jawa Barat), al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Seggaf (Gresik, Jawa Timur), al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfaqih al-Alawy (Malang, Jawa Timur) dan lain-lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Di sarikan dari buku Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan al-’Atthas, karya Habib Novel Muhammad al-’Aydrus, Putera Riyadi, Solo, 2003.*)</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-al-habib-alwi-bin-muhammad-al-haddad.html" rel="bookmark" class="crp_title">Manaqib Al Maghfurlah Al Habib Alwi bin muhammad Al Haddad</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/mengenal-lebih-dekat-al-habib-ahmad-bin-abdullah-bin-thalib-al-athas.html" rel="bookmark" class="crp_title">Mengenal Lebih Dekat Al Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Thalib Al Athas</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-habib-ali-bin-abdurrahman-al-habsy-kwitang.html" rel="bookmark" class="crp_title">Manaqib Al Maghfurlah Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsy Kwitang</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/biografi-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith.html" rel="bookmark" class="crp_title">Biografi Habib Zein bin Ibrahim bin Smith</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/manaqib-al-habib-abdul-qodir-bin-ahmad-assaqof.html" rel="bookmark" class="crp_title">Manaqib Al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assaqof</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2235&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-al-habib-ahmad-bin-hasan-al-%e2%80%99atthas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Kalam Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/mutiara-kalam-habib-ahmad-bin-hasan-al-atthas.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/mutiara-kalam-habib-ahmad-bin-hasan-al-atthas.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 19:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Qadir]]></category>
		<category><![CDATA[Al Malik]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Swt]]></category>
		<category><![CDATA[Amal Dan Niat]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghazali]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Huruf]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kalian]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuasaan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>
		<category><![CDATA[Masjidil Haram]]></category>
		<category><![CDATA[Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara Kalam Habib Ahmad bin Hasan Al Atthas]]></category>
		<category><![CDATA[Pujian]]></category>
		<category><![CDATA[Rahmat]]></category>
		<category><![CDATA[Sajdah]]></category>
		<category><![CDATA[Sayap]]></category>
		<category><![CDATA[Sholat]]></category>
		<category><![CDATA[Sujud]]></category>
		<category><![CDATA[Tekad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2232</guid>
		<description><![CDATA[Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas berkata : • “Sesungguhnya terlalu memfasih-fasihkan bacaan adalah bid’ah. Andaikata salaf membaca Al-Qur’an seperti mereka yang suka memfasih-fasihkan bacaannya, tentu mereka tidak dapat menghatamkan Al-Qur’an dalam semalam.” “Imam Ghazali juga pernah berkata bahwa hudhur dan khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an tidak mungkin dapat dirasakan oleh orang yang membaca Al-Qur’an dengan terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas berkata :<br />
• “Sesungguhnya terlalu memfasih-fasihkan bacaan adalah bid’ah. Andaikata salaf membaca Al-Qur’an seperti mereka yang suka memfasih-fasihkan bacaannya, tentu mereka tidak dapat menghatamkan Al-Qur’an dalam semalam.”<br />
“Imam Ghazali juga pernah berkata bahwa hudhur dan khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an tidak mungkin dapat dirasakan oleh orang yang membaca Al-Qur’an dengan terlalu memfasihkan huruf dan memberi tekanan berlebihan pada tasyhid-tasyhidnya. Andaikata kalian curahkan seluruh konsentrasi kalian untuk merenungkan makna rahmat, pujian, rububiyyah, kekuasaan Allah SWT ( al-Malik) penghambaan, permohonan, permohonan hidayah, shirotol mustaqim yang ada dalam Fatihah, maka itu lebih baik.”</p>
<p><span id="more-2232"></span><br />
• “Jika kau membaca ayat sajdah dan pada saat itu kau berada di tempat yang tidak layak untuk sujud; maka bayangkanlah seakan-akan dirimu berada di tempat yang mulia, seperti Masjidil Haram atau Masjid-masjid lainnya. Setelah itu sujudlah dengan hatimu. Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam bukunya yang berjudul Al-Ghunyah mengatakan :”Jika kau berdiri mengerjakan sholat, maka bayangkanlah seakan-akan kau sedang menghadap Ka’bah dan saksikanlah Ka’bah itu dengan hatimu. Niscaya kau akan meningkat ke maqom yang lain,”<br />
• “Setiap zaman ada 124.000 wali dan setiap wali mewarisi hal dari Nabi SAW. Di antara mereka ada yang tahu dirinya wali, tapi ada juga yang tidak tahu.”<br />
• “Amal dan niat saleh akan menyebabkan timbulnya kewibawaan pada diri seseorang. Ia akan tampak beda dengan orang lain, ucapannya didengar dan bermanfaat. Sebaliknya, amal dan niat buruk akan menyebabkan pelakunya diselimuti kegelapan”<br />
• “Manusia punya dua sayap yang dapat ia gunakan untuk terbabg ke tempat yang mulia, yaitu Niat dan Himmah ( semangat, tekad ). Sedangkan penghuni zaman ini berpijak pada salah satu diantara keduanya. Ada yang memiliki niat, tapi tidak memiliki himmah. Ada yang himmahnya besar, tapi belum memiliki niat. Jika seseorang punya niat, kemudian memperoleh himmah, maka Allah swt akan memperhatikannya dan akan menyampaikannya pada tujuan. Niat itu sebelum himmah dan himmah sebelum amal.”<br />
• Imam Junaid rhm berkata :”barang siapa membuka bagi dirinya satu pintu niat baik, maka Allah swt membukakan baginya 70 pintu taufiq. Dan barang siapa membukakan untuk dirinya satu pintu niat buruk, maka Allah swt membukakan untuknya 70 pintu khidzlan ( dorongan untuk bermaksiat ).”<br />
• Thoriqoh salaf Alawiyin adalah zhohirnya Ghazaliah dan bathinnya Syazaliah. Jika seseorang berkonsentrasi pada amal, maka ia akan mengerjakan amal tanpa ruh. Namun, jika ia meninggalkan amal dan banyak berharap kepada Allah swt, ia akan miskin amal saleh.<br />
• Ikutilah salaf! Barang siapa ingin beribadah kepada Allah swt, hendaknya bertanya bagaimana cara salaf beribadah. Barang siapa ingin mengajar atau belajar, memberi manfaat atau mengambil manfaat, maka hendaknya ia bertanya bagaimana cara salaf melakukan semua itu, dan tidak mengikuti jalan pikirannya sendiri.<br />
• Di dunia ini aku tidak pernah iri kepada seorang wali, raja atau lainnya; aku hanya iri kepada orang yang mengikuti salaf dan meneladani Nabi saw. Kebaikan terletak dalam mengikuti salaf saleh, mempelajari buku-buku mereka, dan meneladani ibadah, adab, akhlaq dan perilaku mereka. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan lelah.<br />
• Kerjakanlah shalat karena Allah swt memerintahkannya. Jadikanlah makna segala sesuatu sebagai tujuanmu. Jangan jadikan cara pengucapan huruf ( makhraj )dan sejenisnya sebagai pusat perhatianmu dalam sholat. Tapi amati dan renungkan ( tadabbur ) makna ayat yang kau baca. Apa yang menghalangimu untuk merenungkan makna basmalah, arti rahmat ayat pertama dan makna syukur. Renungkan tentang Pemberi nikmat dan Pemelihara alam, makna rahmat di ayat ke tiga, makna raja dan penguasa, makna ibadah, pertolongan, hidayah, shirotol mustaqim dan orang-orang yang berjalan diatasnya, yaitu orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah swt. Renungkan tentang orang-orang yang berpaling, yakni orang-orang yang dimurkai Allah swt.<br />
• “Musibah pertama yang menimpa masyarakat adalah peremehan mereka terhadap usaha menghafal Al-Qur’an. Musibah kedua adalah berpalingnya mereka dari buku-buku salaf.”<br />
• Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak akan meninggalkanmu di dunia maupun di akhirat. Ilmu adalah Alat. Meskipun ilmu itu baik, tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Ilmu digunakan hanya untuk mencapai tujuan. Ilmu harus diiringi adab, akhlaq danniat-niat saleh. Ilmu demikian inilah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi.<br />
• Pelajarilah ilmu, tanamkan dalam hati niat untuk mengamalkannya, maka Allah swt akan mengembalikan semua yang hilang dari kalian.<br />
• Jika kau membaca sesuatu dan tidak dapat memahaminya, atau hatimu tidak hadir sewaktu membacanya, maka ulangila lagi di waktu yang lain. Sebab setiap waktu memilki rahasia yang berbeda.<br />
• Barang siapa mendahulukan ikhlas sebelum amal, maka ia tidak akanbisa beramal. Tapi hendaknya ia beramal, kemudian menuntut dirinya untuk ikhlas. Seseorang tidak seharusnya menuntut kesempurnaan, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Sebab jika ia menuntut kesempurnaan dari dirinya, ia tidak akan beramal. jika ia menuntut kesempurnaan dari orang lain, ia tidak akan memandang mulia seorang pun, ia bahkan akan memandang rendah semua orang.<br />
• Setiap kebajikan terasa berat bagi “NAFS”. Tapi jika dipaksakan, ia akan terbiasa dan dapat mengerjakannya dengan mudah. Sebagian orang jika melihat “NAFS”nya benci pada perbuatan baik, ia mengikuti “NAFS”nya dan cenderung kepadanya. Ia selalu berbuat demikian, hingga tidak mampu lagi berbuat baik. Akhirnya, hatinya menjadi keras. Sebenarnya jika hati mau menghadap Allah swt, Allah swt akan menghadap kepadanya. Jika berpaling, Allah swt pun akan berpaling darinya. Sifat “NAFS” adalah suka menentang dan mudah bosan. Jika kau membiasakannya dengan kebaikan, ia akan menjadi baik; tapi jika kau membiasakannya dengan keburukan, ia akan menjadi buruk.<br />
• Manusia hendaknya menyibukkan “NAFS”nya dengan amal-amal yang bermanfaat baginya. “NAFS” akan terbiasa dengan apa yang dibiasakan kepadanya. Orang yang terbiasa banyak bicara, menghadiri majelis yang penuh kelalaian dan permainan, maka hatinya merasa berat untuk membaca Al-Qur’an.<br />
• Hati yang bersih siap menerima karunia-karunia Allah swt. Sedang hati yang kotor tidak dapat menampung karunia Allah swt.<br />
• Hati manusia seperti Baitul Ma’mur. Setiap hari ada 70.000 malaikat yang thawaf mengelilinginya hingga hari kiamat. Dalam 24 jam hati 70.000 bisikan dan setiap bisikan dipegang oleh seorang malaikat.<br />
• Orang yang berharta, hendaknya banyak berderma dan bersedekah di jalan Allah swt. Yang berilmu, hendaknya mencurahkan semua tenaganya untuk mengajar. Yang mempunyai kedudukan, hendaknya berusaha mendamaikan orang-orang yang dizalimi. Yang berdagang dan menekuni pekerjaan lainnya, hendaknya jujur kepada kaum muslimin dan melakukan pekerjaannya dengan sempurna.<br />
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaknya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah swt kepadanya. Allah swt tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah swt berikan kepadanya. Allah swt kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.(QS Ath-Thalaq, 65:7).<br />
• Di dunia ini manusia harus memiliki empat sifat :<br />
1. Sabar terhadap yang dibenci dan disukai.<br />
2. Melayani dengan baik dan memuaskan hati(jabr) orang yang baik maupun jahat.<br />
3. Memiliki akal yang dapat membedakan segala sesuatu.<br />
4. Memilki niat saleh dalam semua hal agar tercapai keinginannya.<br />
• Jika seseorang ingin memperoleh rasa takut kepada Allah swt, maka hendaknya ia melihat orang yang memilki rasa takut. Jika ingin khusyu’ maka hendaknya ia melihat orang yang khusyu’. Manusia adalah magnet untuk dirinya dan orang lain. Manusia biasanya mencuri watak orang yang dilihatnya.<br />
• Hanya prasangka baik kepada Allah swt dan hamba-hambanyalah yang dapat membuka pintu-pintu kebajikan.<br />
“Dua hal yang tidak ada sebuah kebaikan pun yang dapat mengungguli keduanya, yaitu prasangka baik kepada Allah swt dan prasangka baik kepada makhluk Allah swt. Dan dua hal yang tidak ada sebuah keburukan yang dapat mengunggulinya, yaitu prasangka buruk kepada Allah swt dan prasangka buruk kepada makhluk Allah swt.” (Al-Hadits)<br />
• Setiap orang memiliki 360 urat. Ada urat yang akan mendorongnya untuk berbuat kebaikan, dan ada yang akan menggerakkannya untuk berbuat kejahatan. Jika melihat orang saleh, urat-urat kebaikan akan menggerakkannya untuk berbuat baik. Jika melihat orang durhaka, maka urat-urat keburukannya akan menggerakkannya untuk berbuat jahat.<br />
• Orang yang mudah iri, menyangka bahwa semua orang iri; orang yang suka bermaksiat menyangka bahwa semua orang suka bermaksiat; dan orang yang saleh menyangka semua orang gemar berbuat kebaikan.<br />
• Jika kau memandang seorang yang saleh dan istiqomah, khusyu’ dan wara’, lalu kau bandingkan akhlaqmu dengan akhlaqnya. Amalmu dengan amalnya, keadaanmu dengan keadaannya; maka kau akan mengetahui aib dan kekuranganmu. Setelah itu akan mudah bagimu untuk memperbaiki ucapan dan perbuatanmu yang salah, lahir maupun batin. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang yang saleh dan mulia, serta dilarang bergaul dengan selain mereka. Sebab watak seseorang akan mencuri watak orang lain. Jika tidak kau temukan teman duduk yang saleh, pelajarilah buku, sifat, riwayat hidup dan semua prilaku kaum sholihin.<br />
• Ada dua orang yang tidak boleh kau pegang pendapatnya, yaitu orang yang selalu mengikuti kata hatinya dan orang yang tidak melaksanakan pendapatnya sendiri.<br />
• Jangan berselisih dengan anakmu dan jangan pula bersikap keras kepadanya. Ajak dan perintahkan untuk berbuat kebaikan. Jika ia tidak patuh, jauhilah dia dengan santun dan penuh perhatian.<br />
• Habib abu Bakar bin Abdullah Al-Atthas dahulu melarang seseorang bergaul dengan Ahli bid’ah, orang-orang yang aqidahnya menyimpang dan orang-orang yang merendahkan kaum sholihin, Para Wali dan Ulama. Jika melewati tempat yang ada orang-orang yang memiliki salah satu sifat di atas, beliau menutupi kepalanya dan berjalan dengan cepat.<br />
• Sholatlah di belakang orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh, dan sholatkanlah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh. ( Hadits )<br />
• Orang –orang di Zaman akhir ini lebih mengutamakan harta mereka dibanding diri mereka sendiri. Mereka kikir dan tidak memperdulikan apa yang menimpa mereka. Mereka abaikan Hak Allah swt, Allah swt pun lalu menundukkan mereka di bawah kekuasaan orang yang tidak mengasihi mereka. Adapun orang-orang terdahulu, mereka menjadikan harta mereka sebagai perisai dan pelindung dari segala bencana.<br />
• Jika seseorang senantiasa taat, maka Allah swt akan memberinya rejeki. Allah swt tidak akan membiarkannya begitu saja tanpa harta.Allah swt telah memberi kalian rejeki, tapi kalian menghambur-hamburkan rejeki itu bukan pada tempatnya. Tunaikanlah kewajiban zakat, janganlah kalian kurangi.<br />
• Segala kesedihan yang dapat hilang dengan uang, bukanlah kesedihan.<br />
• Jika dalam hatimu terlintas bisikan buruk atau ajakan untuk bermaksiat, angkatlah kepalamu ke langit lalu ucapkan :”Allah….. dengan satu nafas. Perbuatan ini akan membakar dan menghapus dengan seketika bisikan-bisikan buruk dalam hati. Hikmah dari menengadahkan kepala ke langit adalah karena setan tidak dapat mendatangi manusia dari atas kepalanya. Allah Ta’ala berfirman : “Kemudian Saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.(QS Al-A’raf, 7:17). Allah swt tidak mengatakan bahwa iblis akan mendatangi mereka dari atas.<br />
• Habib Ahmad bin hasan Al-Atthas selalu membaca surat Al-Waqiah di waktu Ashar. Beliau berkata :”Sayyidil Wujud (Nabi Muhammad saw) lah yang memerintahkanku untuk membacanya di waktu Ashar.”</p>
<p>(Dikutip dari buku “Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas; Novel Muhammad Al-Aydrus)</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/langkah-awal-mendekatkan-diri-kepada-allah-swt.html" rel="bookmark" class="crp_title">Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/psikologi-ucapan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Psikologi Ucapan</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/akhlak-kepada-sesama-muslim.html" rel="bookmark" class="crp_title">AKHLAK KEPADA SESAMA MUSLIM</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wasiat-nasihat-al-habib-ali-bin-muhammad-bin-husain-al-habsy.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wasiat Nasihat Al Habib Ali Bin Muhammad Bin Husain Al-Habsy</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wasiat-nasehat-syekh-abdul-qadir-al-jailany.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wasiat Nasehat Syekh Abdul Qadir Al-Jailany</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2232&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/mutiara-kalam-habib-ahmad-bin-hasan-al-atthas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Karakteristik Wanita Shalehah</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/sepuluh-karakteristik-wanita-shalehah.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/sepuluh-karakteristik-wanita-shalehah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 18:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Swt]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[Aurat]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Isteri Orang]]></category>
		<category><![CDATA[Karera]]></category>
		<category><![CDATA[Katakanlah]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kunci Sukses]]></category>
		<category><![CDATA[Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Penyayang]]></category>
		<category><![CDATA[Qur An Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Ridha]]></category>
		<category><![CDATA[Sendi]]></category>
		<category><![CDATA[Sepuluh]]></category>
		<category><![CDATA[Sepuluh Karakteristik Wanita Shalehah]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Taat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2229</guid>
		<description><![CDATA[Muslimah shalihah yang berakhlak mulia memiliki beberapa karakteristik yang indah. Pertama, bertakwa Kepada Allah SWT dan bisa menjaga dirinya, anak-anaknya, serta harta suaminya. Dalam Al Qur’an Allah Berfirman yang maksudnya, “Sebab itu, Maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dir ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah Memelihara mereka.” (Q.S [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Muslimah shalihah yang berakhlak mulia memiliki beberapa karakteristik yang indah.<br />
<strong>Pertama</strong>, bertakwa Kepada Allah SWT dan bisa menjaga dirinya, anak-anaknya, serta harta suaminya. Dalam Al Qur’an Allah Berfirman yang maksudnya,<br />
“Sebab itu, Maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dir ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah Memelihara mereka.” (Q.S An Nisa’:34)</p>
<p><span id="more-2229"></span></p>
<p><strong>Kedua</strong>, ia memiliki sifat sabar. Ia bersikap tabah dalam menghadapi berbagai persoalan. Bahkan ia pandai menghibur suaminya yang sedang di rundung masalah. Bukannya malah merunyamkan suasana.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, senantiasa menjaga shalat 5 waktu. Sebagaimana maklum shalat 5 waktu adalah tiang agama. Muslimah yang menjaga shalatnya adalah sosok muslimah yang sendi-sendi keimanannya kokoh. Ia akan kuat menghadapi berbagai terpaan cobaan dan musibah. Muslimah seperti inilah yang bisa menjadi faktor kunci sukses suaminya.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, menjaga auratnya dengan baik. Ia tak mau keluar rumah kecuali seizin suaminya. Andaikata keluar, ia menutupi aurat yang menjadi kehormatannya serta suaminya. Allah SWT berfirman yang maksudnya, ” Hai nabi. Katakanlah kepada isteri-isteri mu, anak-anak perempuammu dan isteri-isteri orang beriman “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal. Karera mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S Al Ahzab, 59)</p>
<p><strong>Kelima</strong>, taat kepada suaminya, menghormatinya, mencintainya, menyayanginya. Selalu menampakkan wajah yang menyenangkannya. Selalu memberikan dukungan kepada suami baik dalam urusan pekerjaan atau ibadah. Tidak menghardik atau mengeluarkan kata-kata kotor kepadanya. Tidak membicarakan aib-aibnya kepada wanita lain. Tak pernah ada niatan untuk menyakitinya. Ia senantiasa menlakukan perbuatan yang membuat ridha suaminya. Rasul SAW bersabda, “Tatkala seorang muslimah melaksanakan shalat 5 waktu, menunaikan puasa wajib dan mematuhi suaminya, maka ia akan memasuki surga Tuhannya.”</p>
<p><strong>Keenam</strong>, bisa mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebab mereka lebih dekat kepada anak-anak daripada suami yang lebih banyak keluar untuk bekerja. Seorang Muslimah Shalihah akan mengajarkan anak-anaknya membaca Al Qur’an, menanamkan rasa cinta kepada Nabi SAW beserta keluarganya. Mendampingi mereka melewati masa kanak-kanak dengan lembut dan penuh cinta, menjauhkan merekan dari akhlak tercela. Dan tak kalah pentingnya, mengajarkan mereka rasa hormat kepada ayahnya.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, mampu menasehati suami yang sedang lalai dari ibadah dengan cara yang santun dan bijak. Ia bisa mengambil hati suaminya sebelum mengingatkannya. Cara demikian lebih bisa di terima suami ketimbang cara-cara langsung yang akan memperburuk situasi.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, memiliki prinsip hidup yang kuat. Ia tak mudah terpengaruh gaya hidup non islami yang sekarang ini gencar di budayakan oleh media massa. Sebagai muslimah ia harus tetap berpegang teguh pada ajaran Islam baik dari segi berpakaian, berprilaku dan lainnya. Ia pantang meniru lifestyle wanita non muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meniru gaya hidup suatu kaum, berarti ia termasuk golongan tersebut.”</p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, ia mampu menjaga penglihatannya dan kehormatannya. Ia tak mau memandang laki-laki selain suaminya. Kehormatannya di jaga mati-matian demi suaminya. Ia bersolek hanya untuk suaminya. Ini merupakan gambaran Bidadari Syurga. Allah SWT berfirman.. Yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An Nuur:31)</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, bersikap wara’. Ia tak mau mengkonsumsi makanan-makanan yang haram ataupun yang syubhat. Demikian pula ia menjaga suami dan anak-anaknya dari hal tersebut. Ia faham betul bahwa dari makanan yang baik dan halal akan lahir pula kepribadian-kepribadian yang baik. “Kuatnya agama adalah sikap wara’.” demikian sabda Nabi SAW.</p>
<p>Demikian sebagian karakteristik muslimah yang shalihah. Dengan karakteristik tersebut ia akan menampakkan kecantikan bathin yang akan abadi dan takkan lapuk oleh penuaan seperti halnya kecantikan jasmani.</p>
<p>Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan perhiasan yang terindah adalah wanita yang shalihah.”</p>
<p>Wallahu A’laam..</p>
<p>Di rangkum dari Majalah Dakwah Cahaya Nabawiy Edisi No.62 th.VI Jumadil Awwal 1429 H / Juni 2008 M.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/wanita-shalihah-3.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wanita Shalihah (3)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wanita-shalihah-5.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wanita Shalihah (5)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wanita-shalihah-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wanita Shalihah (1)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wanita-shalihah-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wanita Shalihah (2)</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/wanita-shalihah-6.html" rel="bookmark" class="crp_title">Wanita Shalihah (6)</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2229&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/sepuluh-karakteristik-wanita-shalehah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maulid Dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/maulid-dalam-pandangan-al-qur%e2%80%99an-dan-hadits.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/maulid-dalam-pandangan-al-qur%e2%80%99an-dan-hadits.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 18:53:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Qalbu]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[12 Rabiul Awal]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur]]></category>
		<category><![CDATA[Alergi]]></category>
		<category><![CDATA[Allah Swt]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[artikel agama islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islam terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel islami]]></category>
		<category><![CDATA[artikel tentang islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikelislam]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kelahiran]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Lahir]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Libur Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[islam artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kabut]]></category>
		<category><![CDATA[kaligrafi]]></category>
		<category><![CDATA[kaligrafi lafadz Muhammad.]]></category>
		<category><![CDATA[Kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[Kelahiran Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan artikel islam]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Ada]]></category>
		<category><![CDATA[Maulid Dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Isa]]></category>
		<category><![CDATA[Nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan Maulid Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Pujian]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah Nabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2223</guid>
		<description><![CDATA[Rabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang lebih sempurna dari Baginda Nabi SAW. Berkat beliau, seluruh semesta menjadi terang benderang. Kabut jahiliah tersingkap berganti cahaya yang memancarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang lebih sempurna dari Baginda Nabi SAW. Berkat beliau, seluruh semesta menjadi terang benderang. Kabut jahiliah tersingkap berganti cahaya yang memancarkan kedamaian dan ilmu pengetahuan. Karena itu kita wajib mensyukuri. Tiada nikmat yang lebih berhak untuk disyukuri dari nikmat wujudnya sang kekasih, Muhammad SAW.</p>
<p><span id="more-2223"></span></p>
<p>Walau masih ada segelintir muslimin yang alergi dengan peringatan maulid Nabi SAW, antusiasme memperingati hari paling bersejarah itu tak pernah surut. Di seluruh belahan bumi, umat Islam tetap semangat menyambut hari kelahiran Nabi SAW dengan beragam kegiatan, seperti sedekah, berdzikir, shalawat, bertafakkur, atau dengan menghelat seminar-seminar ilmiah, bahkan Rasulullah telah mengawali mereka dan memberikan contoh dengan berpuasa setiap hari kelahiran beliau yaitu hari senin. Negara-negara muslim, kecuali Arab Saudi, menjadikan tarikh 12 Rabiul Awal sebagai hari libur nasional. Hari itu pun dijadikan sebagai momen pertukaran tahni’ah (ucapan selamat) bagi sebagian pemimpin negara-negara di Sumenanjung Arab.</p>
<p>Secara harfiah, maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dimafhumi, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,</p>
<h2 align="right">وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ</h2>
<p><em>“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”</em></p>
<p><strong>Maulid Nabi Isa</strong></p>
<p>Dalam Al-Quran banyak tercantum maulid para nabi. Allah SWT mengisahkan Nabi Isa A.S. secara runtun: mulai kelahirannya, lalu diutus sebagai rasul, hingga diangkat ke langit. Coba tengok surat Ali Imran ayat 45 sampai 50. Di situ Allah SWT memulai kronologi kisah Nabi Isa a.s. dengan firmanNya,</p>
<h2 align="right">إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ</h2>
<p><em>“(ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”</em></p>
<p>Dalam Surat Al Maidah ayat 110, Allah SWT lagi-lagi menegaskan sekali lagi siapa sosok Isa a.s., Allah SWT berfirman,</p>
<h2 align="right">إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ</h2>
<p><em>“(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan dirimu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”. </em></p>
<p>Ayat-ayat di atas mengurai sirah nabi Isa a.s. mulai jelang kelahirannya sampai diangkat ke langit. Sebuah data yang tak bisa dibantah keontetikannya. Mengacu terminologi maulid sebagai sirah, jalinan kisah di atas sah-sah saja bila diistilahkan sebagai Maulid Nabi Isa a.s.</p>
<p><strong>Maulid Nabi Yahya</strong></p>
<p>Selain Nabi Isa a.s., Al-Quran juga mencatat “biografi” Nabi Zakaria dan maulid Nabi Yahya Alaihimassalam. Dalam surat Maryam ayat 3 sampai 33, Allah mengisahkan perjalanan hidup Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dengan panjang lebar, dimulai dengan sebuah doa Nabiyullah Zakariya yang penuh pengharapan.</p>
<p><em> “Ia Berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku (pengganti) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, sebagai seorang yang diridhai”. </em></p>
<p>Kemudian Allah menjawab permintaan rasul-Nya itu, sekaligus sebagai isyarat akan lahirnya sang “putra mahkota”, Nabi Yahya a.s.,</p>
<h2 align="right">يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا</h2>
<p><em>“Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya.</em></p>
<p>Selanjutnya, dengan bahasa yang indah, Al-Quran mengisahkan sirah Nabi Zakaria a.s. dan putranya, Yahya a.s.. Sama seperti perjalanan hidup Nabiyullah Isa a.s., sirah Nabi Yahya bisa pula diistilahkan sebagai Maulid Nabi Yahya karena, hakikatnya, maulid adalah sirah. Begitu pun kisah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf, Nabi Musa dan lainnya.</p>
<p><strong>Maulid Siti Maryam</strong></p>
<p>Tak hanya para nabi. Al-Quran juga mendedah sejarah hidup sebagian kaum shalihin. Salah satunya adalah Siti Maryam, sosok teladan bagi wanita sepanjang masa. Kisah wanita mulia itu dibuka dengan sebuah nazar yang diucapkan seorang ibu yang berhati tulus dalam surat Ali Imran ayat 35 sampai 37.</p>
<p><em> “(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. </em></p>
<p><em>36. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, Sesunguhnya Aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya Aku Telah menamai dia Maryam dan Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”</em></p>
<p><em>37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. </em></p>
<p>Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sertakan pada artikel ini karena keterbatasan ruang di website ini.</p>
<p>Dari ayat-ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Maulid Nabi SAW, yang memuat sirah Rasulullah SAW, adalah semacam epigon (pengikut) bagi Al-Quranul Karim yang memuat sirah-sirah para nabi dan shalihin. Sebagai pemimpin para nabi, sudah sepatutnya sejarah Nabi Muhammad dibukukan dan dibaca sesering mungkin. Pentingnya mengenang perjalanan hidup Baginda Nabi SAW sangat dirasakan umat Islam pada periode akhir-akhir ini, tatkala berbagai figur non muslim ditawarkan oleh media-media secara gencar.</p>
<p><strong>Hari Istimewa</strong></p>
<p>Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (<em>Almustadrak ala shahihain hadits no.4177</em>) adalah salah satu tengara. Fakta lainnya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (<em>Fathul Bari juz 6/583</em>).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (<em>Sirah Ibn Hisyam</em>).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (<em>Fathul Bari juz 6/583</em>).</p>
<p><strong>Keempat</strong>, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (<em>Fathul Bari 6/583</em>).</p>
<p>Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.</p>
<p><strong>Hikmah maulid</strong></p>
<p>Peringatan maulid nabi SAW sarat dengan hikmah dan manfaat. Di antaranya: mengenang kembali kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta.</p>
<p>Para sahabat radhiallahu anhum kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu misal, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”</p>
<p>Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.</p>
<p>Selain itu, dengan menghelat Maulid, umat Islam bisa berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya, berkat beliau SAW, kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT.</p>
<p>Sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam benak, kenapa membaca sirah baginda rasulullah mesti di bulan maulid saja? Kenapa tidak setiap hari, setiap saat? Memang, sebagai tanda syukur kita sepatutnya mengenang beliau SAW setiap saat. Akan tetapi, alangkah lebih afdhal apabila di bulan maulid kita lebih intens membaca sejarah hidup beliau SAW seperti halnya puasa Nabi SAW di hari Asyura’ sebagai tanda syukur atas selamatnya Nabi Musa as, juga puasa Nabi SAW di hari senin sebagai hari kelahirannya.</p>
<p>Nah, sudah saatnyalah mereka yang anti maulid lebih bersikap toleran. Bila perlu, hendaknya bersedia bergabung untuk bersama-sama membaca sirah Rasul SAW. Atau, minimal – sebagai muslim– hendaknya merasakan gembira dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Sudah sepantasnya di bulan ini kita sediakan waktu untuk mengkaji lebih dalam sejarah hidup Rasul SAW. Jangan lagi menggugat maulid!</p>
<p>&nbsp;</p>
<pre>Sumber: forsansalaf.com</pre>
<p>&nbsp;</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/tentang-maulid-baginda-rasulullah-saw.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tentang Maulid Baginda Rasulullah SAW</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/peringatan-maulid-nabi-saw.html" rel="bookmark" class="crp_title">PERINGATAN MAULID NABI SAW</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/bidah-kah-peringatan-isra-miraj-nabi-muhammad-saw.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bid`ah kah peringatan Isra` Mi`raj Nabi Muhammad SAW</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/maulid-nabi-muhammad-saw.html" rel="bookmark" class="crp_title">Maulid Nabi Muhammad SAW</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/surga-dan-neraka.html" rel="bookmark" class="crp_title">SURGA DAN NERAKA</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2223&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/maulid-dalam-pandangan-al-qur%e2%80%99an-dan-hadits.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Habib Zein bin Ibrahim bin Smith</title>
		<link>http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith-4.html</link>
		<comments>http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 18:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ahlulkisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Foto Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Zein bin Smith]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Al Haddar]]></category>
		<category><![CDATA[Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Bin Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Al Habib]]></category>
		<category><![CDATA[foto foto habaib.]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Habib]]></category>
		<category><![CDATA[foto habib habib]]></category>
		<category><![CDATA[Foto Habib Zein bin Ibrahim bin Smith]]></category>
		<category><![CDATA[foto para habaib]]></category>
		<category><![CDATA[gambar habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[haba ib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[habib foto]]></category>
		<category><![CDATA[Habib umar]]></category>
		<category><![CDATA[Hafiz]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kala]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Klik Disini]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Mana]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Bin]]></category>
		<category><![CDATA[Pada Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[para habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Pun]]></category>
		<category><![CDATA[Sheikh Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Umar Bin]]></category>
		<category><![CDATA[Zein]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlulkisa.com/?p=2219</guid>
		<description><![CDATA[Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M. Ayahnya Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu, selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius. Guru-gurunya ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz, Habib Umar bin Alwi al-Kaf, Al-Allamah Al-Sheikh Mahfuz bin Salim, Sheikh Salim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M. Ayahnya Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu, selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.<br />
Guru-gurunya ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz, Habib Umar bin Alwi al-Kaf, Al-Allamah Al-Sheikh Mahfuz bin Salim, Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan, Habib Salim bin Alwi Al-Khird, Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus, Habib Muhammad Al-Haddar (mertuanya)<br />
<span id="more-2219"></span><br />
<a href="http://ahlulkisa.com/wp-content/uploads/2012/02/Habibana-Zein-bin-Smith.jpg">==&gt;klik disini untuk memperbesar foto</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel terkait:</h3><ul><li><a href="http://ahlulkisa.com/biografi-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith.html" rel="bookmark" class="crp_title">Biografi Habib Zein bin Ibrahim bin Smith</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Zein bin Ibrahim bin Smith</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Zein bin Ibrahim bin Smith</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith-3.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Zein bin Ibrahim bin Smith</a></li><li><a href="http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-smith.html" rel="bookmark" class="crp_title">Foto Habib Zein bin Smith</a></li></ul></div><img src="http://ahlulkisa.com/?ak_action=api_record_view&id=2219&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlulkisa.com/foto-habib-zein-bin-ibrahim-bin-smith-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Served from: ahlulkisa.com @ 2012-02-23 16:11:41 by W3 Total Cache -->
