Archive for Sejarah

Malam Lailatul Qodar dan Kapan Lailatul Qadar itu ?


Sudah sering kita dengar istilah Lailatul Qadar, bahkan selalu lekat dalam ingatan. Namun demikian, nyatanya kita tidak akan pernah mengenal hakikat Lailatul Qadar itu sendiri, lantaran masalahnya amat ghaib. Pengetahuan kita terbatas hanya pada apa yang telah ditunjukkan di dalam berbagai nash, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah serta interpretasinya.

Secara etimologis, “lailah” artinya malam, dan “al-qadar” artinya takdir atau kekuasaan. Adapun secara terminologis, dapat kita coba dengan cara mengamati ayat berikut ini :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malm kemuliaan (Lailatul Qadar)” (QS Al-Qadar (97):1)

Dari pernyataan bahwa Al-Qur’an tersebut diturunkan pada saat Lailatul Qadar, dapat kita tangkap pengertian, yakni; pertama , Lailatul Qadar merupakan dari suatu malam, saat diturunkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Walhasil, Lailatul Qadar itu terjadi hanya satu kali, tidak sebelum dan sesudahnya. Akan tetapi keagungan dan keutamaannya itu diabadikan oleh Allah SWT untuk tahun-tahun berikutnya. Tegasnya, Lailatul Qadar yang ada sekarang ini, hanyalah semacam hari peringatan yang memiliki berbagai keistimewaan yang sangat luar biasa.

Kedua, Lailatul Qadar merupakan sebutan dari suatu malam pada setiap bulan Ramadhan, yang dahulu kala pernah bersamaan dengan peristiwa diturunkannya Al Qur’an secara keseluruhan.

Kedua pengertian tersebut di atas, merupakan hasil analisa yang boleh jadi dapat diterima oleh semua pihak, lantaran sama sekali tidak mengingkari keutamaan Lailatul Qadar. Sedangkan hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahui. Sementara lailatul Qadar itu sendiri, dalam sebuah ayat dinyatakan sebagai Lailah Mubarakah (malam kebaikan).

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.”(Q.S Ad Dukhaan (44):3)

Dalam masalah ini, para Muffasir menjelaskan bahwa Lailatul Qadar itu adalah saat diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul’Izzah, sebelum diwahyukan kepada Rasulullah SAW secara berangsur. Olah sebab itu, tidaklah dapat disamakan antara Lailatul Qadar dengan Nuzulul Qur’an atau turunnya ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Betapa mulia dan begitu istimewanya Lailatul qadar itu, sebagai rahmat dan nikmat Allah SWT bagi seluruh ummat Muhammad SAW. Sehingga tak satupun dari kita yang tak suka jika mampu meraihnya. Dan wajar pula, jika malam jatuhnya Lailatul Qadar itupun selau dipertanyakan, bahkan nyaris selalu menimbulkan perselisihan pendapat.

Kapan Lailatul Qadar?

Menurut suatu pendapat ; Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke 27 setiap bulan Ramadhan. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا، فَلْيَتَحَرِّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Siapapaun mengintainya maka hendaklah mengintainya pada malam ke dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar)

Sementara menurut pendapat yang lain; perintah Rasulullah SAW untuk mengintai pada malam ke 27 itu, bukan merupakan suatu kepastian bahwa Lailatul Qadar akan terjadi pada malam itu. Akan tetapi hanya sebagai petunjuk, bahwa pada malam itu memang kemungkinan besar akan terjadi. Terbukti dengan pernyataan Rasulullah SAW sendiri dalam hadist yang lain.

أخْبَرَنَا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن لَيْلَةِ الْقَدْرِقال : هي في رمضان في العشر الأواخر ، في إحدى و عشرين أو ثلاث و عشرين أو خمس و عشرين أو سبع و عشرين أو تسع و عشرين أو في آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah SAW telah memberitakan kepadaku tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda: “Lailatul Qadar terjadi pada Ramadhan; dalam sepuluh hari terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan atau ,malam terakhir.”

Adapun yang dimaksud dengan malam terakhir dalam hadts di atas, tentunya jika sebulan Ramadhan itu hanya 29 hari. Sehingga malam yang ke 29 otomatis merupakan malam terakhir.

Dengan demikian, menurut kami pendapat yang kedua ini jauh lebih dasarnya ketimbang pendapat pertama. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa; jatuhnya Lailatul Qadar itu sama sekali tak dapat ditentukan secara pasti. Lantaran perupakan rahasia Allah SWT.

Lailatul Qadar yang agung itu—sebagaimana jawaban terdahulu sangatlah ghaib malam jatuhnya. Namun demikian, Rasulullah SAW telah memberi petunjuk kepada ummatnya bahwa jatuhnya itu di antara malam-malam ganjil pada sepuluh hari Ramadhan terakhir. Maka tidak mustahil, jika diantara hari-hari itu setiap tahunnya akan berubah-ubah, sebagaimana dapat dicerna pula dari berbagai hadits yang berbeda-beda penjelasannya.

Kemungkinan berubah-ubah tersebut, jika dimaksudkan bahwa Lailatul Qadar itu merupakan sebutan dari suatu malam pada setiap bulan Ramadhan yang dahulu kala pernah bersamaan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan. Adapun jika dimaksudkan bahwa, Lailatul Qadar hanya semacam hari peringatan, maka tidak mungkin jatuhnya Lailatul Qadar itu akan berubah, bahkan sampai kiamat nanti.

Selain itu, nampaknya perlu kita sadari pula, bahwa tidak adanya kepastian pada malam tertentu tentang jatuhnya Lailatul Qadar ini, justru banyak membawa hikmah yang antara lain, untuk mandapatkan keutamaan dan berkah dari saat turunnya Lailatul Qadar itu, kaum Muslimin tidak hanya dengan bertekun ibadah semalam saja. Akan tetapi harus selama 10 malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW beserta keluarganya.

Popularity: 15% [?]

SIAPAKAH YANG DISEBUT “AHLUL-BAIT”

Istilah”Ahlul-Bait” berasal dari firman Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur`anul-Karim Surah Al-Ahzab 33 :

انّمايريدالله ليذهب عنكم الرّجس أهل البيت ويطهّركم تطهيرا

Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.

Dalam arti bahasa “Ahlul-Bait” bermakna keluarga atau anggota rumah tangga, akan tetapi dalam kaitannya dengan makna ayat tersebut, para ahli tafsir berbeda pendapat. Muhammad Jawad Maghniyah dalam kitabnya yang berjudul “Al Husein Wal Qur`an” halamn 18 -19 menerangkan: menurut riwayat ikrimah dan Azzayad ayat tersebut ditujukan khusus kepada istri Rasulullah SAW, karena penafsiran ayat tersebut dikaitkan dengan ayat sebelumnya, yaitu yang berkenaan dengan istri beliau SAW, akan tetapi sebagian besar ahli tafsir berpegang pada riwayat Abu Said Al-Khudari yang mengakatan bahwa Rasul SAW pernah menegaskan: Ayat itu turun untuk 5 orang yaitu aku sendiri, Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Berdasarkan penegasan beliau itu maka yang dimaksud dengan istilah “Ahlul-Bait” adalah 5 orang anggota keluarga Rasulullah SAW. At-Turmudzi mengetengahkan sebuah hadits yang dibenarkan oleh Jarir, Al-Hakim, Ibnu Mardaweh dan Al-Baihaqi, Hadits ini terkenal dengan nama “Haditsul-Kisa”. Kedudukan khusus “Ahlul-Bait” diperkukuh oleh kesaksian Ibnu Abbas ra yang mengatakan: “ aku menyaksikan sendira selama 9 bulan Rasul SAW secara terus menerus menghampiri tempat kediaman Ali bin Abi Thalib setiap beliau hendak bersembahyang di Masjid. Beliau SAW mengatakan: “Assalamu`alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sungguhlah Allah hendak menghapuskan dari para “Ahlul-Bait” dan benar-benar hendak mensucikan kalian. Marilah bersembahyang semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya Pada kalian”. Kesaksian Ibnu Abbas ra diperkuat oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawih berdasarkan kesaksian Abul-Hamra yang mengatakn: “Selama 8 bulan di Madinah aku menyksikan tiap kali Rasulullah SAW keluar hendak melaksanakan Shalat di Masjid, beliau selalu menghampiri Ali bin Abi Thalib dirumahnya, sambil perpegang pada pintunya, beliau SAW  berucap: “Marilah bersambahyang, sungguhlah bahwa Allah SWT hendak menghapuskan kotoran dari kalian hai “Ahlul-Bait” dan Dia benar-benar hendak mensucikan kalian”. Sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan oleh Al Hakim, Abu Ya`la, Abu Na`im dan Addailamy, bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

خيركم خيركم لأهلي من بعدي

Yang terbaik diantara kalian ialah yang terbaik perlakuannya terhadap “Ahlulu-Baitku” setelah aku kembali keharibaan Allah. Demikian juga At-Thabraniy dalam kitabnya yang berjudul “Al-Kabir” dan Ibnu Hajar dalam kitabnya “Asshawa`iqulmughriqah”, kedua-duanya meriwiyatkan sebuah hadits berasal dari Abu Sa`id Al-Khudhariy ra yang mengakatan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

انّ لله عزّوجلّ حرمات ثلاث. من حفظهنّ حفظ الله أمر دينه ودنياه, ومن لم يحفظهنّ لم يحفظ الله شيئا: حرمة الإسلام, وحرمتي, وحرمة رحمي

Sesungguhnyalah bahwa bagi Allah ada tiga hurumat-yakni tiga perkara yang tidak boleh dilanggar, barang siapa bisa menjaga tiga perkara tersebut, niscaya Allah akan menjaga urusan agamanya(Akhiratnya) dan urusan dunianya. Barang siapa tidak menjaga baik-baik tiga perkara tersebut maka tidak ada suatu apapun baginya yang mendapat perlindungan Allah. Tiga hurumat itu ialah: Hurumatul Islam(yakni kewajiban terhadap  agama islam), hurumatku(yakni kewajiban terhadap Rasulullah SAW) dan hurumat rahimku(yakni kewajiban terhadap “Ahlul- Bait” atau keluarga beliau SAW). Imam Muslim dalam Shahihnya bab “Fadha`il Ahlul-Bait” mengatakan bahwa ayat 33 Surah Al Ahzab ditujukan kepada Muhammad Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, Siti Fatimah Azzahra dan dua orang puteranya yaitu Al-Hasan dan Al Husein  radhiyallahu`nhum. Penegasan seperti itu dapat kita temukan juga dalam berbagai kitab antara lain: “Mustadrakusshahihain”, “Ad Dur Al Mantsur” tulisan As Syuyuthi, “Kanzul `Ummal”, “Sunah At Turmudziy”, “Tafsir At Thabraniy”, “Khasha`is an Nasa`iy”, “Tarikh Baghdad”, “Al Isti`ab”, “Ar Riyadh Annahdharah”, “Musnad Abi Dawud”, “Asad Al Ghabah” dan lain lain. Penulis tafsir “Al Manar” Syeikh Muhammad Abduh, dalam manafsirkan ayat 18 surah Al An`am antara lain mengatakan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

كلّ ولدأدم فإنّ عصبتهم لأبيهم ما خلا ولد فاطمة, فإنّي أنا أبوهم وعصبتهم

Semua anak adam bernasab kepada orang tua lelaki(ayah mereka), kecuali anak-anak Fatimah, akulah ayah mereka dan akulah yang menurunkan meraka. Dari hadits tersebut  jelaslah, bahwa putera puteri Fatimah Azzahra ra semuanya adalah anggota “Ahlul-Bait” Rasulullah SAW. Hal itu lebih ditegaskan lagi oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhariy dalam kitab “Al Ahkam”, dan oleh Imam Muslim dalam kitab “Al Imarah”. Yaitu hadits-hadits yang menerangkan bahwa Rasul SAW sambil menunjuk kepada dua orang cucunya Al Hasan dan Al Husein menyatakan:

إبنان هذان, يشير إلى الحسن والحسين, إمامان قاما أوقعد

Dua orang puteraku ini adalah Imam-Imam, baik disaat mereka sedang duduk ataupun sedang berdiri. Dari keterangan-keterangan tersebut diatas semuanya, kiranya jelaslah sudah, bahwasanya yang dimaksud dengan istilah “Ahlul-Bait” dalam surah Al Ahzab ayat 33 ialah anggota-anggota keluarga Rasulullah SAW yaitu: Imam Ali bin Abi Thalib, isteri beliau Fatimah Azzahra puteri bungsu Rasulullah SAW, A Hasan dan Al Husein radhiyallahu `anhuma. Penafsiran dan definisi(ta`rif) tersebut sepenuhnya didasar pada ucapan-ucapan Rasulullah SAW sendiri, sebagaimana diriwaytkan oleh Hadits-Hadits shahih. Dengan perkataan lain yang lebih tegas ialah: “Rasulullah sendirilah yang menafsirkan Ayat 33 Surah Al Ahzab. Sedangkan beliau SAW adalah seorang Nabi dan Rasul yang oleh Allah SWT  dinyatakan dalam Al Qur`anul Karim Surah An Najm:2-4:

ما ضلّ صاحبكم وما غوا. وما ينطق عن الهوى. إن هو إلاّ وحي يوحى

Sahabat kalian(yakni Muhammad Rasulullah SAW) tidak sesat dan tidak keliru. Ia tidak mengucap sesuatu menurut hawa nafsu. Apa yang diucapkannya adalah wahyu yang diwahyukan Allah SWT. Beruntunglah orang-orang yang memelihara hubungan baik dengan “Ahlul-Bait”, kaum kerabat Rasulullah SAW dan keturunan mereka. Bahagialah orang-orang yang dengan syafa`at Rasulullah SAW akan memperoleh hidup kekal diakhirat. Alangkah nikmatnya  orang-orang yang dengan keridhoan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW memperoleh kasejahteraaan hidup didunia dan akhirat.

اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّد وعلى آله وأزواجه وذريته وأصحابه وبارك وسلّم اجمعين

Popularity: 13% [?]

Ahlul Kisa

NASH-NASH HADITS “AL-KISA”

Hadits “AL-Kisa” mengandung dua pengertian pokok yang amat besar dan penting. Yaitu:

  1. Pembuktian atau Dalil tentang kesucian “Ahlul-Bait” Rasulullah SAW
  2. Bahwa yang dimaksud “Ahlul-Bait” ialah Imam Ali bin Abi Thalib r.a., Fatimah Azzahra r.a., Al-Hasan dan Al-Husein radhiyallahu `anhuma.

Nash-nash Hadits tersebut diriwayatkan oleh berbagai sumber dan oleh banyak Rawi (orang yang menyampaikan riwayat) dengan teks yang agak berlain-lainan, tetapi mempunyai makna yang sama.

Dibawah ini kami kutipkan Firman Allah SWT dan beberapa nash dari Hadits “Al-Kisa” :

اِنَّمَايُرِيْدُالله ُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً.( الأحزاب/۳۳)ه

Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.

وَرُوِىَ اْلإِمَامْ أَحْمَدْوَالتُرْمُذِي عَنْ أُمِ سَلَمَةَ أَنَهُ لَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعاَلَى: (اِنَّمَايُرِيْدُاللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً. الأحزاب/۳۳)  أَدَارَالنَّبِي صلّى الله عليه وسلّم كِسَاءَهُ عَلَى عَلِي وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَقَالَ: (اَللٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرهُمْ تَطْهِيْراً)ه

أحمد في المسند (١/٣٣١، ٣/۲٥۹، ۲۸٥، ٦/۲۹۲، ۲۹۷، ۳۰٤) والترمذي رقم (۳۲۰٥، ۳۷۸٦)  في التفسير باب (ومن سورة الأحزب) وفي المناقب باب (مناقب أهل بيت النبي صلى الله عليه وسلم (٥/۳۲۸، ٦۲١) ورقم (۳۸۷۰ ) في (فضل فاطمة رضي الله عنها) وقال حديث حسن صحيح. والحاكم في المستدرك (۳/١٤٦). والطبراني في (( الكبير)) من عدة طرق (۳/٤٦-٥١) من رقم (۲٦٦۳–۲٦۷۲) ه

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmudzi dari Umi Salamah, sesungguhnya pada saat Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya. Al Ahzab/33 )  Nabi SAW mengerubungkan (menutupi) kain Kisa` nya diatas Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidatuna Fatimah, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein RA. Dan beliau Nabi SAW berdo`a: (Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku. Karena itu hilangkanlah noda kotoran (ar-rijsa) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.)

قَلَتْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدِيْ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ، فَجَعَلْتُ لَهُمْ خُزَيْرَةً، فَأَكَلُوْاوَنَامُوْاوَغَطَّى عَلَيْهِمْ كِسَاءً أَوْقَطِيْفَةً ثُمَّ قَالَ:   اَللّٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ اَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرهُمْ تَطْهِيْراً

Ummu Salamah r.a. berkata: pada suatu hari Rasulullah SAW berada ditempat kediamanku bersama Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Untuk mereka kubuatkan Khazirah (makanan terbuat dari tepung dan daging). Setelah makan mereka tidur, kemudian oleh Rasulullah SAW mereka diselimuti dengan kisa, atau kain sutera, seraya berucap: “Ya Allah, mereka Ahlul-Baitku, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”.

(Dari Hadits Zaid, dari Syahr bin Hausyab. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/6)

قَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: لَمَّا نَزَلَتْ هٰذِهِ اْلأٰيَةُ ﴿ اِنَّمَايُرِيْدُالله ُلِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً.﴾ دَعَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًاوَحُسَيْنًا، فَجَلَّلَ عَلَيْهِمْ بِكِسَاءٍخَيْبَرِيٍّ وَقَالَ:  اَللّٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ، اَللّٰهُمَّ اَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا. قَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: أَلَسْتُ مِنْهُمْ ؟ قَالَ: أَنْتِ إِلٰى خَيْرٍ

Ummu Salamah r.a. berkata: ketika turun ayat (Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya) Rasulullah SAW memanggil  Ali, Fatimah, Hasan dan husein, kemudian beliau menyelimuti mereka dengan kisa buatan Khaibar seraya berucap: “Ya Allah, mereka Ahlul-Baitku, ya Allah, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Ummu Salamah bertanya: “Tidaklah aku termasuk mereka?”, Rasulullah SAW menjawab: “Engkau berada didalam kebajikan”.

(Dari Hadits Waki`, dari Abdulhamid bin Bahram, dari Syahr bin Hausyab, dari Fudhail bin Marzuq, dari `Athiyyah, dari Abu Sa`id Al-Khudriy, bersal dari Ummu Salamah r.a. Lihat Tafsir At-Thabariy:22/7)

قَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ وَهْبِ بْنِ زُمْعَةٍ: أَخْبَرَتْنِيْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: أَنَّ رَسُوْلَ الله ِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فَاطِمَةَ وَالْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ رَضِيَ الله ُعَنْهُمْ، ثُمَّ أَدْخَلَهُمْ تَحْتَ ثَوْبِهِ، ثُمَّ جَأَرَ إِلَى اللهِ تَعَالىٰ وَقَالَ: هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ. فَقَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ: يَارَسُوْلَ اللهِ، أَدْخِلْنِيْ مَعَهُمْ، قَالَ: إِنَّكِ مِنْ أَهْلِيْ

Abdullah bin Wahab bin Zam`ah mengatakan: Ummu salamah r.a. memberitahu kepadaku, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW mengumpulkan Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein r.a, kemudian ketiga-tiganya dimasukkan kedalam jubahnya, lalu beliau berdo`a mohon kepada AllAh SWT: “mereka Ahlul-Baitku”. Ummu Salamah berkata: “Ya Rasulullah, masukkanlah aku bersama mereka..” Rasulullah SAW menjawab: “Engkau termasuk keluargaku”.

(Dari Hadits Hasyim bin `Utbah bin Abi Waqqas, berasal dari Abdullah bin Wahab bin Zam`ah. Lihat Tafsir At-Thabraniy: 22/7 dan Tuhfatul-Ahwadziy: 9/66)

قَالَ عُمَرُبْنُ أَبِيْ سَلْمَةَرَبِيْبُ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَزَلَتْ هٰذِهِ اْلأٰيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِيْ أُمِّ سَلْمَةَ ” اِنَّمَايُرِيْدُالله ُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً” فَدَعَاحَسَنًا وَحُسَيْنًا وَفَاطِمَةَفَأَجْلَسَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَدَعَاعَلِيًّافَأَجْلَسَهُ خَلْفَهُ، فَتَجَلَّلَ هُوَوَهُمْ بِاالْكِسَاءِثُمَّ قَالَ: اَللّٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ، فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرهُمْ تَطْهِيْرا.ً قَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ: أَنَامَعَهُمْ؟ قَالَ: أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ أَنْتِ عَلَى خَيْرٍ

Umar bin Abi Salamah anak tiri Rasulullah SAW mengatakan, bahwa ayat “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul-Bait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya“, turun kepada Rasulullah SAW dirumah Ummu Salamah, kemudian Rasulullah SAW memanggil Hasan, Husein dan Fatimah, lalu ketiganya diminta duduk didepan beliau. Beliau memanggil Ali lalu diminta duduk dibelakang beliau. Kemudian beliau bersama mereka menyelimuti diri dengan kisa seraya berucap: Ya Allah, mereka Ahlul-Baitku, maka hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata: apakah aku bersama mereka? Rasulullah SAW menjawab: engkau berada ditempatmu dan engkau memperoleh kebajikan.

(dari Hadits Muhammad bin Sulaiman Al-Ashbahaniy, dari Yahya bin Ubaid Al-Makky, dari `Atha bin Abi Rabbah, berasal dari Umar bin Abi Salamah. Lihat Tafsir At-Thabariy:22/7 dan Tuhfatul-Ahwadziy: 9/66)

Wallahu a`lam bishawab

Referensi:

  1. Al-Qur`anulKarim
  2. `Allimu Auladakum min Ali BaitiNabi SAW (Prof. Muhamad `Abduh Al-Yamani)
  3. Keutamaan keluarga Rasulullah SAW (K.H. Abdullah bin Nuh)

Popularity: 45% [?]

Peristiwa Mubahalah

PERISTIWA MUBAHALAH

اَلْمُبَاهَلَةُ مِنَ اْلاِبْتِهَالِ،هُوَاْلاِجتِهَادُفِي الدُعَاءِ بِاللَّعنِ وَغَيْرِهِ   ِ

“Mubahalah” diambil dari kata Ibtihal, yang artinya bersungguh-sungguh dalam do`a untuk laknat/kutukan dan lainnya.

» Read more..

Popularity: 13% [?]