Archive for Jendela Qalbu

Tafsir singkat Surat Al Kautsar tentang keturunan yang terputus

Mari sekarang kita merujuk tafsir dan penjelasan singkat para ulama pakar mengenai surat Al-Kautsar ini dan sebab-sebab turunnya ayat ini. Bunyi Surat Al-Kautsar [108] sebagai berikut:

إنَّا أعْطَيْنَاكَ الكَوْثرَْ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إنَّ شَانِئَكَ هُوَالأبْتـَرْ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorban lah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus ”.

Surat ini diturunkan sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulullah SAW terputus. Jadi  yang dimaksud kalimat “Nikmat yang banyak” dalam ayat itu adalah Rasulullah SAW memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui pernikahan antara Siti Fathimah Az-Zahra’ dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW, kebanyakan dari keturunan Siti Fathimah ini menjadi para Imam yang memberi petunjuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah SWT dan keridhaan-Nya. Adapun yang dimaksud kalimat “Orang yang membencimu dialah yang terputus” dalam ayat itu adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan! Tafsir seperti ini dapat anda baca diantaranya dalam kitab-kitab berikut:

Tafsir Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 30, halaman 504 ; Tafsir Gharaibul Qur’an (catatan pinggir) Majma’ul Bayan, jilid 30, halaman 175 ; Tafsir Majma’ul Bayan, oleh Ath-Thabrasi, jilid 30, halaman 206, cet. Darul Fikr, Beirut ; Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, halaman 52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 Miladiyah ; Al-Manaqib, oleh Syahraasyub, jilid 3, halaman 127.

Menurut Ustadz Quraish Shihab seorang ulama ahli tafsir Indonesia dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Qur’an Tafsir atas surat-surat pendek berdasarkan urutan wahyu terbitan Pustaka Hidayah mengatakan: Bahwa surat Al-Kautsar ini diturunkan di Makkah dan merupakan surat ke-14 dalam turunnya wahyu serta surat ke-108 dalam urutan mushaf.
‘Al-Kautsar’ menurut arti kata berasal dari akar kata yang sama dengan ‘Katsir’ yang berarti ’Banyak’. Jadi Al-Kautsar berarti sesuatu nikmat yang banyak. Ustadz Quraish Shihab mengemukakan bahwa Ulama berbeda pen dapat dalam mengartikan “Al-Kautsar” pada surat ini:

Pendapat pertama: Sebagian berpegang pada hadits nabi dari Anas bin Malik (HR Muslim dan Ahmad) yang menceritakan ‘Al-Kautsar’ sebagai sebuah nama telaga yang ada disurga yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi.

Pendapat kedua: Sebagian lagi berpegang sejarah pada hadits lainnya mengenai ejekan ‘Abtar’ yang berarti ‘terputus keturunan’. Sehingga Al-Kautsar berarti Allah menganugerahkan keturunan yang banyak kepada Rasulallah saw. Pendapat kedua ini dikutip juga oleh Imam Suyuthi dalam bukunya Asbab Annuzul serta Addur Al-Mantsur serta ulama pakar tafsir lainnya seperti Al-Alusy, Al-Qasimy, Al-Jamal, Abu Hayyan, Muhammad Abduh, Thabathabai dan lain lain. Pendapat kedua ini merupakan pendapat yang paling banyak dipercaya oleh para ulama ahli tafsir.
Menurut Ustadz Quraish Shihab, hadits riwayat Muslim dan Ahmad dari Anas bin Malik diatas (pendapat pertama) tentang Al-Kautsar ini, ditolak oleh Muhammad Abduh sebagai penjelasan terhadap surat Al-Kautsar.

Pendapat ketiga: Sebagian lagi menganggap bahwa Al-Kautsar berarti keduanya yaitu nikmat Allah yang banyak yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw.. Salah satunya berupa keturunan yang banyak serta telaga di surga serta nikmat-nikmat lainnya.
Sejarah meriwayatkan juga waktu putra beliau saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan, sedangkan saat itu nabi saw. serta Khadijah ra. dalam usia yang telah cukup tua. Waktu Khadijah sedang hamil, semua orang menunggu apakah Khadijah akan memberikan seorang anak lelaki atau perempuan. Ketika ternyata Khadijah melahirkan seorang puteri (yang kemudian diberi nama Fatimah Az-Zahra) maka orang-orang Quraisy bersorak dan mengatakan bahwa Muhammad “Abtar”. Kata-kata Abtar ini adalah ejekan yang diberikan kepada orang yang terputus keturunannya.

Pendapat terbanyak dari ahli tafsir mengenai sebab-sebab turunnya surat Al-Kautsar ialah bahwa Allah SWT memberikan nikmat kepada Nabi SAW berupa keturunan yang sangat banyak. Dikatakan dalam buku tersebut; “Jika riwayat dari berbagai pakar tafsir ini diterima maka itu berarti Al-Qur’an telah menggaris bawahi sejak dini tentang akan berlanjutnya keturunan Nabi Muhammad SAW  bakal banyak dan tersebarnya mereka itu”.

Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad SAW berupa surat Al-Kautsar ini menunjukkan bahwa Allah SWT sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran sayyidah Fatimah ra tersebut, bahwa Rasulallah SAW tidaklah “Abtar” bahkan dari rahim Siti Fatimah ra akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya dalam ayat tersebut Rasulullah diperintahkan untuk bershalat dan berkurban (aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya) dan pada ayat yang ketiga disebutkan bahwa musuh-musuh Rasulullah yang mengejek itulah yang kemudian oleh Al-Qur’an disebut sebagai “Abtar” (terputus).
Surat ini dimulai dengan kata “Inna/Sesungguhnya” yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita  besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya. Ustadz Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya bahwa penggunaan kata “kepadamu” pada ayat ketiga menunjukkan bahwa anugerah Allah tersebut (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhammad SAW yang dikasihi-Nya.
Dalam buku tersebut juga dikemukakan beberapa argumen yang mendukung bahwa dzurriyah/keturunan Rasulallah SAW memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah ra. dan bukan melalui anak lelakinya. Diantaranya dalam surat Al-An’am 84-85 bahwa Al-Qur’an menganggap nabi Isa as sebagai dzurriyah Ibrahim meski pun beliau as lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim as). Juga banyak hadits yang mengutarakan bahwa Rasulallah memanggil Al-Hasan dan Al-Husain sebagai “anakku”.
Sejarah juga membuktikan bahwa dari rahim Siti Fatimah Rasulallah SAW memperoleh dua orang cucu (putera) yang sangat dicintai beliau yaitu Al-Hasan dan Al-Husain ra. Kemudian setelah peristiwa Karbala maka satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Al-Husain yaitu Ali Awsath yang bergelar “Zainal Abidin” atau “Assajad” (ahli sujud) kemudian beliau ini meneruskan keturunan Nabi SAW dari Imam Husain. Demikian juga keturunan dari Imam Hasan.

Imam Husain sendiri memiliki enam anak lelaki, dan hanya satu yang selamat setelah peristiwa Karbala . Sedangkan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib kw. memiliki sebelas anak lelaki, beberapa diantaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini Alhamdulillah ada banyak sekali dzurriyah (keturunan) Nabi saw. dari Siti Fatimah ra terutama via Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib [ra] dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan menurut Ustadz Quraish Shihab, dzurriyah (keturunan) Nabi SAW ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya. Demikianlah sedikit keterangan dari bukunya Ustadz Quraish Shihab.

Sebagaimana dikemukakan tadi bahwa kita sering baca dikitab-kitab sejarah atau sunnah Rasulullah SAW biografi para Nabi, nama-nama mereka serta nama datuk-datuknya, nama-nama keturunan mereka dan lain sebagainya, tidak lain semuanya ini disampaikan melalui riwayat serta tersimpan dengan rapi sampai sekarang. Tidak ada para sahabat atau tabi’in yang mencela atau menuduh semua nya itu! Apalagi pada zaman modern sekarang ini dengan adanya computer dan internet lebih mudah untuk menemukan kembali sejarah dan riwayat-riwayat para Rasul, Nabi dan nasab keturunan Rasulallah SAW yang telah ditulis oleh para ulama pakar.

Marilah kita rujuk lagi ayat Ilahi dan hadits Rasulullah SAW berikut ini yang berkaitan dengan keturunan:
Firman Allah SWT  “Surga ‘Adn mereka masuk kedalamnya dan juga orang yang baik-baik dari bapak-bapak mereka dan isteri-isteri mereka dan keturunan mereka”..

Juga firman-Nya lagi: ‘Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Kami hubungkan/kumpulkan anak cucu mereka dengan mereka…dan seterus nya ‘. (Ath-Thuur : 21).

Dan masih ada lagi didalam firman-Nya yang menyebutkan mengenai keturunan para Nabi.

Begitu juga hadits Rasulullah SAW dari Abu Sa’id Al-Khudri ra katanya: “Mengapa masih ada beberapa kaum yang mengatakan bahwa tali kekeluargaan Rasulullah SAW tidak menguntungkan kaumnya pada hari kiamat. Sungguh demi Allah bahwasanya tali kekeluargaan akan tetap tersambung didunia maupun di akhirat. Wahai, sekalian manusia! Sesungguhnya aku akan mendahului kamu sampai di Telaga Haudh” (HR Ahmad dan Al-Hakim dalam shohihnya, Al-Baihaqi dan Thabrani dalam kitab Al-Kabir).
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Telah wafat seorang putri Safiah binti Abdul Muttalib ra kemudian beliau berceritera yang kesudahannya beliau katakan: Kemudian Rasulullah SAW berdiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah lalu bersabda: ‘Mengapa masih ada beberapa kaum yang menuduh bahwa hubungan kerabatku tidak akan memberi manfaat, ketahuilah bahwa semua kemuliaan dan keturunan akan terputus pada hari kiamat kecuali kemuliaan dan keturunanku dan sesungguhnya tali kekeluargaanku akan tetap bersambung didunia mau pun akhirat’ ”. (Hadits ini dishohihkan oleh Al-hafidz As-Sakhawi dan Ibnu Hajar dan disebutkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya dari tiga jalur).

Allah SWT sendiri dalam Al-Qur’an telah menetapkan suatu hukum kepada keturunan-keturunan yang beriman yang mana mereka akan menyertai datuk-datuknya begitu juga yang diungkapkan dalam hadits-hadits diatas. Rasulallah SAW membantah keras bagi orang yang beranggapan bahwa hubungan kerabat dan tali kekeluargaan beliau SAW akan putus dan tidak memberi manfaat bahkan beliau menguatkan perkataannya itu dengan bersumpah Demi Allah…..
Lalu bagaimana dapat dipastikan keturunan tersebut itu kalau tanpa adanya ketetapan nasab silsilahnya?
Begitu juga hadits Nabi SAW yang termasyhur dan sebagai bukti-bukti lagi tidak terputusnya keturunan beliau SAW yaitu akan munculnya Imam Al-Mahdi ra pada akhir zaman dan Imam ini dari keturunan Rasulallah SAW. Hadits-hadits ini kita bicarakan pada halaman selanjutnya.

Kami sering bertanya-tanya mengapa yang hanya sering dicela dan diganggu keturunan/cucu Nabi SAW yang riwayatnya banyak dalam hadits serta ditulis oleh ulama pakar ahli sejarah. Ada gerangan apakah dibalik celaan atau tuduhan ini ? Kami berlindung pada Allah swt. atas kebohongan golongan pencela atau pengingkar ini dan penolakan mereka terhadap adanya keturunan Nabi SAW.

Sumber Cuplikan dari Buku “TELAAH KRITIS ATAS DOKTRIN FAHAM SALAFI / WAHABI”, karya: A. Shihabuddin

Popularity: 43% [?]

HIZB SYEKH ABU BAKAR BIN SALIM

بسم الله الرّحمن الرّحيم

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ

اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ شُكْراً وَلَكَ الْمُنَّ فَضْلاً وَأَنْتَ رَبُّناَ حَقّاًوَنَحْنُ عَبِيْدُكَ رِقّاً وَأَنْتَ لَمْ تَزَلْ لِذَلِكَ أَهْلاً.

Ya Allah, segala puji bagi-Mu dan dari-Mu lah segala karunia. Benar , Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah budak-Mu. Dan Engkau selalu pantas menyandang itu.

يَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيْرٍ وَيَا جَابِرَكُلِّ كَسِيْرٍوَيَاصَاحِبَ كَلِّ فَرِيْدٍ

Ya Allah, yang memudahkan segala yang sulit, yang menghibur mereka yang patah hati, yang menemani mereka yang kesepian,

وَيَامُغْنِى كُلِّ فَقِيْرٍوَيَامُقَوِّيَ كُلِّ ضَعِيْفٍ وَيَامَأْمَنَ كُلِّ مَخِيْفٍ

yang memenuhi kebutuhan mereka yang fakir, yang memberi kekuatan kepada mereka yang lemah, yang memberi perasaan aman kepada yang ketakutan,

يَسِّرْعَلَيْنَاكُلَّ عَسِيْرٍفَتَيْسِيْرُالْعَسِيْرِعَلَيَْكَ يَشِيْر

Mudahkanlah segala kesulitan kami, karena memudahkan yang sulit bagi-Mu tidaklah sulit,

اَللّهُمَّ يَامَنْ لاَ يَحْتَاجُ إِلَى الْبَيَانِ وَالتَّفْسِيْرِحَاجَاتُنَاكَثِيْرٌوَأَنْتَ عَالِمٌ بِهَاوَخَبِيْرٌ

Ya Allah, yang tidak membutuhkan penerangan dan penjelasan, kebutuhan kami pada-Mu sangatlah banyak dan Engkau mengetahui dan menyadari

اَللّهُمَّ إِنِّى أَخَافُ مِنْكَ وَأَخَافُ مَمَّنْ يَخَافُ مِنْكَ وَأَخَافُ مَمَّنْ لاَيَخَافُ مِنْكَ

Ya Allah, aku takut kepada-Mu dan takut kepada orang yang takut kepada-Mu dan takut kepada orang tidak takut kepada-Mu.

اَللّهُمَّ بِحَقِّّ مَنْ يَخَافُ مِنْكَ نَجِّنَا مِمَّنْ لاَيَخَافُ مِنْكَ

Ya AllAh, dengan hak orang yang takut kepada-Mu, selamatkanlah kami dari orang-orang yang tidak takut kepada-Mu.

اَللّهُمَّ بِحَقِّّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍأُحْرُسْنَابِعَيْنِكَ الَّتِيْ لاَتَنَامُ

Ya AllAh, dengan berkat kemuliaan Nabi Muhammad SAW, jagalah kami dengan kedua mata-Mu yang tak pernah tidur

وَاكْنُفْنَابِكَنَفِكَ الَّذِيْ لاَيُرَامُ وَارْحَمْنَابِقُدْرَتِكَ عَلَيْنَا فَلاَنُهْلِكُ وَأَنْتَ ثِقَتُنَاوَرَجَاؤُنَا

Lindungilah kami dengan perlindungan-Mu yang tak terkalahkan dan kasihanilah kami dengan kekuasaan-Mu atas kami, sehingga kami tak binasa

وَصَلَّى الله ُعَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ ِلله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ, عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dan limpahkanlah shalawat dan salam kepada pemimpin kami Muhammad SAW serta kepada keluarga dan para sahabatnya dan segala puji syukur hanyalah untuk Allah Tuhan alam semesta, sebanyak jumlah makhluk-Nya, keridhaan-Nya, ukuran arsy-Nya dan tinta kalimat-Nya.

Popularity: 5% [?]

TANDA-TANDA AHLUL BID’AH

Ahlul bidah memiliki tanda-tanda yang lengkap dan nampak sehingga mereka mudah dikenal. Dalam al-Quran dan haditsnya Allah dan Rasul-Nya telah mengabarkan tentang sebagian tanda-tanda mereka untuk dijadikan peringatan bagi umat dari bahaya mereka dan larangan mengambil jalan hidup mereka. Para Salaf pun telah menerangkan masalah ini.

Saya akan menyampaikan sebagian dari tanda itu yang dengan tanda itu mereka membedakan diri. Sebagai jembatan penolong supaya mengerti tentang mereka Insaya Allah. Termasuk tanda-tanda mereka adalah:

1. BERPECAH-BELAH
Sesungguhnya Allah taala telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Quran. Ia berkata ,Janganlah kalian menjadi orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan mereka mendapatkan adzab yang besar. Ia berfirman,Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka (terpecah-belah menjadi beberapa golongan) tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini,Ayat ini secara umum menerangkan orang yang memecah-belah agama Allah dan mereka berselisih. Sesungguhnya Allah mengutus nabi-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar memenangkannya atas semua agama. Syariatnya adalah satu yang tidak ada perselisihan dan perpecahan padanya. Barang siapa yang berselish padanya maka merekalah golongan yang memecah belah agama seperti halnya pengikut hawa nafsu dan orang-orang sesat. Sesungguhnya Allah taala berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa syiar ahli bidah adalah perpecahan,Oleh karena itu al-Firqatun Najiah disfati dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mereka adalah jumhur dan kelompok terbesar umat ini. Adapun kelompok lainnya maka mereka adalah orang-orang yang nyleneh, berpecah belah, bidah dan pengikut hawa nafsu. Bahkan terkadang di antara firqah-firqah itu amat sedikit dan syiar firqah-firqah ini ialah menyelisihi al-Quan, as-Sunnah serta ijma.

2. MENGIKUTI HAWA NAFSU
Dialah sifat mereka yang paling kentara. Allah taala berkata mensifati mereka, Maka kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.

Ibnu Katsir berkata, Yakni ia berjalan dengan hawa nafsunya. Apa yang dilihat baik oleh hawa nafsunya maka ia lakukan dan apa yang dilihatnya jelek maka ia tinggalkan. Inilah manhaj Mutazilah dalam menganggap baik dan jelak denga logika mereka.

Nabi telah mengabarkan bahwa hawa nafsu tidak akan terlepas dari ahli bidah dalam hadits perpecahan di mana beliau mengatakan,Sesungguhnya ahli kitab terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh dua puluh millah dan sesungguhnya umat ini akan terpecah menadi tujuh puluh tiga millah -yakni hawa nafsu- semuanya di neraka kecuali satu millah yaitu al-Jamaah.

Sesunguhnya akan muncul pada umatku beberapa kaum hawa nafsu mengalir pada mereka sabaimana mengalirnya penyakit anjing dalam tubuh mangsanya. Tidak tersiksa darinya satu urat dan persendian pun kecuali diamasukinya.

3. MENGIKUTI AYAT-AYAT YANG SAMAR
Sifat mereka ini telah Allah kabarkan dalam firman-Nya,…Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang samar untuk menimbukan fitanh dan untuk mencari-cari takwilnya.

Bukhari meriwayatkan hadits dari Aisyah katanya,Rasulullah membaca ayat ini,Dialah yang menurunkan al-quran kepada kamu di antara isinya ada aya-ayat yang muhkamat. Itulah pokok-pkok isi ajaran al-Quran dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya …sampai ayat … orang-orang yang berakal. Ia berkata, Rasulullah, berkata, Bila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutashyabihat maka merekalah yang Allah namakan sebagai orang-orang yang harus dijauhi.

Dari Amiril Mukminin Umar bin Al-Khathab katanya,Akan datang manusia mendebat kalian dengan ayat-ayat mutaysabihat maka balaslah mereka dengan sunah-sunnah karena Ahlus Sunnah lebih mengetahui akan kitabullah.

4. MEMPERTENTANGKAN SUNNAH DENGAN AL-QURAN
Termasuk tanda ahli bidah adalah mempertentangkan al-Quran dengan sunnah dan merasa cukup mengambil al-quran dalam pelaksanaan hukum-hukum syara sebagaimana yang diberitakan Nabi: Seorang laki-laki hampir bersandar di atas ranjangnya dibacakan haditsku lalu mengatakan,Antara kami dan kalian adalah kitabullah. Perkara halal yang kita temukan padanya maka kita halalkan dan perkara haram yang kita temukan padanya maka kita haramkan. Ketahuilah apa-apa yang Rasulullah haramkam adalah sama dengan apa yang Allah haramkan.

Al-Imam Al-Barbahari mengatakan :Bila kamu melihat seorang mencela hadits atau menolak atsar /hadits atau menginginkan selain hadits, maka curigailah keislamnnya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah ahli bidah(pengikut hawa nafsu) Beliau berkata:Bila kamu mendengar seorang dibacakan hadits di hadapannya tetapi ia tidak menginginkannya dan ia hanya mengingnkan al-Quran maka janganlah kamu ragu bahwa dia seorang yang telah dikuasai oleh kezindikan. Berdirilah dari sisinya dan tinggalkanlah ia!

Mempertentangkan sunnah dengan al-Quran dan menolaknya bila belum ditemukan pada al-Quran apa-apa yang menguatkan sunnah, termasuk tanda ahli bidah yang paling kentara. Nabi telah mengabarkannya sebelum terjadi dan benarlah beliau. Sekarang apa yang beliau kabarkan telah terjadi. Sungguh kita mendengar dan membaca peristiwa semisal itu dari sebagian ahli bidah pada jaman dulu. Hingga kita melihat salah satu dari ahli bidah dan orang sesat jaman sekarang menghujat kitab shahih Bukhari yang telah disepakati oleh umat ini keshahihannya.Ia yakin bahwa padanya terdapat seratus dua puluh hadits yang tidak shahih yang ia sebut sebagai hadits Israiliat. Ia menghilangkannya dan mempertentangkannya dengan al-Quran kemudian ia bantah dan ingkari. Tampillah seorang tokoh ulama sekarang menentang, meruntuhkan sybuhatnya (kerancuannya), menolak kebatilannya, menampakkan penyimpangan dan kepalsuannya dengan karyanya untuk membantahnya dan orang yang menempuh jalanya, ahli bidah. Semoga Allah membalas amalnya dengan sebaik-baik pembalasan.

5. MEMBENCI AHLI HADITS
Termasuk tanda ahli bidah adalah membenci dan mencela ahli hadits dan atsar. Dari Ahamad bin Sinan al-Qaththan katanya: Dan tidaklah ada di dunia ini seorang mubtadi pun kecuali membenci ahli hadits.

Abu Hatim ar-Razi berkata,Tanda ahli bidah adalah mencela ahli hadits dan tanda orang zindik adalah menamakan Ahlus Sunnah bengis. Dengan sebutan itu mereka menghendaki hilangnya hadits.

6. MENGGELARI AHLUS SUNNAH DENGAN TUJUAN MERENDAHKAN MEREKA
Termasuk tanda mereka adalah menggelari Ahlus Sunnah(yang bertolak belakang dengan sifat mereka) dengan tujuan merendahkan mereka.

Abu Hatim ar-Razi berkata:Tanda Jahmiah adalah menamakan Ahlus Sunnah musyabbahah(menyerupakan Allah dengan mahluk). Ciri-ciri Qadariah adalah menamakan Ahlus Sunnah mujabbirah(mahluk tidak mempunyai kehendak.) Ciri-ciri Murjiaah adalah menamakan Ahlus Sunnah menyimpang dan mengurangi.Ciri-ciri Rafidhah adalah menamakan Ahlus Sunnah nashibah(mencela Ali). Ahlus Sunnah tidak digabungkan kecuali kepada satu nama dan mustahil nama-nama ini mengumpulkan mereka.

Al-Barbahari berkata,Dan orang yang tertutup(kejelekannya) adalah yang jelas ia tertutup(kejelekannya) dan orang yang terbuka kejelekannya adalah orang yang jelas aibnya. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan Nashibi, ketahuilah bahwa ia adalah Rafidly. Bila kamu mendengar seorang mengatakan fulan musyabbihah atau fulan menyerupakan Allah dengan makhluk, ketahuilah bahwa ia adalah Jahmy. Bila kamu mendengar seorang berkata tentang tauhid dan mengatakan,Terangkan padaku tauhid!, ketahuilah bahwa ia adalah Kharijy dan Mutazily. Atau mengatakan, fulan Mujabbirah atau mengatakan, dengan ijbar atau berkata dengan adilm ketahuilah bahwa ia adalah Qadari karena nam-nama ini bidah yang dibuat-buat oleh ahli bidah.

Syaikh Ismail as-Shabuni mengatakan,Ciri-ciri ahli bidah amat jelas dan terang Sedang tanda-tanda mereka yang paling jelas adalah sangat keras memusuhi para pemilkul hadits, dan menghinakan mereka dan mengelari mereka kaku,bodoh,dhahiri,(tekstual) musyabbihah(golongan yang menyerupakan Allah dengan mahluk). Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadts itu masih berupa benda mentah (bukan ilmu). Dan yang dinamakna ilmu adalah ilham yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, intuisi hati nurani mereka yang gelap….

7. TIDAK BERPEGANG DENGAN MADZHAB SALAF
Syaikhul Islam berkata,Kelompok-kelompok bidah yang terkenal di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang tidak menganut madzhab salaf antara lain kelompok: Rafidhah, sampai orang awam tidak mengetahui syiar-syiar bidah kecuali rafdl(menolak kepemimpinan khulafaur rasyidin selain Ali). Dan sunni menurut istilah orang awam adalah orang yang bukan rafidhi ….Sehinga diketahui syiar ahli bidah menolak madzhab Salaf. Oleh karena itu dalam risalah yang ditujukan kepada Abdus bin Malik Imam Ahamad berkata,Asas sunnah menurut kami adalah berpegang dengan apa yang dijalani sahabat Muhammad….

8. MEMVONIS KAFIR ORANG YANG MENYELISIHI MEREKA TANPA DALIL
Dalam banyak tempat Syaikhul Islam menyebutkan tentang bantahan terhadap orang yang menvonis orang yang masih belum jelas kekafirannya,Pendapat ini tidak diketahui dari seorang sahabat, tabiin, yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak pula dari salah satu imam tetapi ini termasuk salah satu pokok dari pokok-pokok ahli bidah yang membuat bidah dan menvonis kafir orang yang menyelisihi mereka semisal Khawarij, Mutazilah dan Jahmiah.

Beliau berkata,Khawarij,Mutazilah, dan Rafidhah, menvonis kafir Ahlus Sunnah wal Jamaah. Golongan yang belum mereka vonis kafir maka mereka vonis fasik. Demikian juga mayoritas ahlul ahwa menvonis bidah dan kafir golongan yang menyelisihi mereka berdasarkan logika semata.

Akan tetapi Ahlus Sunnah adalah golongan yang mengikuti kebenaran dari Rab mereka yang dibawa oleh rasul-Nya,tidak menvonis kafir golongan yang menyelisihi mereka. Mereka golongan yang paling tahu tentang kebenaran dan kondisi manusia.

Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman Alu Syaikh ditanya tentang orang yang menvonis kafir sebagian golongan yang menyelisihinya. Beliau menjawab,Jawabannya, Saya tidak mengetahui sandaran ucapan itu. Berani menvonis kafir golongan lain yang menampakkan keislaman tanpa dasar syari dan keterangan yang akurat menyeilisihi manhaj para pakar ilmu agama dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Jalan ini adalah jalannya ahlul bidah dan orang-orang sesat.

Diambil dari Mauqif Ahlus Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa wal Bid’ah karya Dr. Ibrahim Ruhaily

Popularity: 4% [?]

Pemahaman Tentang “BID`AH” (2)

I. Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.

Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw:

“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).

» Read more..

Popularity: 4% [?]

Pemahaman Tentang “BID`AH” (1)

Bid’ah dalam pengertian bahasa adalah:

مَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ

“Sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya”.

Seorang ahli bahasa terkemuka, Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan sebagai berikut:

 

“Kata Ibda’  artinya merintis sebuah kreasi baru tanpa mengikuti dan mencontoh sesuatu sebelumnya. Kata Ibda’  jika digunakan pada hak Allah, maka maknanya adalah penciptaan terhadap sesuatu tanpa alat, tanpa bahan, tanpa masa dan tanpa tempat. Kata Ibda’ dalam makna ini hanya berlaku bagi Allah saja. Kata al-Badi’ digunakan untuk al-Mubdi’ (artinya yang merintis sesuatu yang baru). Seperti dalam firman (Badi’ as-Samawat Wa al-Ardl), artinya: “Allah Pencipta langit dan bumi…”. Kata al-Badi’ juga digunakan untuk al-Mubda’ (artinya sesuatu yang dirintis). Seperti kata Rakwah Badi’, artinya: “Bejana air yang unik (dengan model baru)”. Demikian juga kata al-Bid’u digunakan untuk pengertian al-Mubdi’ dan al-Mubda’, artinya berlaku untuk makna Fa’il (pelaku) dan berlaku untuk makna Maf’ul (obyek). Firman Allah dalam QS. al-Ahqaf: 9 (Qul Ma Kuntu Bid’an Min ar-Rusul), menurut satu pendapat maknanya adalah: “Katakan Wahai Muhammad, Aku bukan Rasul pertama yang belum pernah didahului oleh rasul sebelumku” (artinya penggunaan dalam makna Maf’ul)”, menurut pendapat lain makna ayat tersebut adalah: “Katakan wahai Muhammad, Aku bukanlah orang yang pertama kali menyampaikan apa yang aku katakan” (artinya penggunaan dalam makna Fa’il)” (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 36).

Dalam pengertian syari’at, bid’ah adalah

“Sesuatu yang baru yang tidak terdapat penyebutannya secara tertulis, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits”. (Sharih al-Bayan, j. 1, h. 278)

Seorang ulama bahasa terkemuka, Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menuliskan sebagai berikut:

لَيْسَتْ البِدْعَةُ وَالْمُحْدَثُ مَذْمُوْمَيْنِ لِلَفْظِ بِدْعَةٍ وَمُحْدَثٍ وَلاَ مَعْنَيَيْهِمَا، وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ البِدْعَةِ مَا يُخَالِفُ السُّـنَّةَ، وَيُذَمُّ مِنَ الْمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى الضَّلاَلَةِ

 

“Perkara yang baru (Bid’ah atau Muhdats) tidak pasti tercela hanya karena secara bahasa disebut Bid’ah atau Muhdats, atau dalam pengertian keduanya. Melainkan Bid’ah yang tercela itu adalah perkara baru yang menyalahi sunnah, dan Muhdats yang tercela itu adalah perkara baru yang mengajak kepada kesesatan”.

Macam-Macam Bid’ah

Bid’ah terbagi menjadi dua bagian: Pertama: Bid’ah Dlalalah. Disebut pula dengan Bid’ah Sayyi-ah atau Sunnah Sayyi-ah. Yaitu perkara baru yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah. Kedua: Bid’ah Huda atau disebut juga dengan Bid’ah Hasanah atau Sunnah Hasanah. Yaitu perkara baru yang sesuai dan sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Imam asy-Syafi’i berkata

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا ، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ، وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ (رواه الحافظ البيهقيّ في كتاب ” مناقب الشافعيّ

“Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang dilakukan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini tidak tercela”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i) (Manaqib asy-Syafi’i, j. 1, h. 469).

Dalam riwayat lain al-Imam asy-Syafi’i berkata:

اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ: بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّـنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ

“Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah adalah bid’ah tercela”. (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath Al-Bari)

Pembagian bid’ah menjadi dua oleh Imam Syafi’i ini disepakati oleh para ulama setelahnya dari seluruh kalangan ahli fikih empat madzhab, para ahli hadits, dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka adalah para ulama terkemuka, seperti al-‘Izz ibn Abd as-Salam, an-Nawawi, Ibn ‘Arafah, al-Haththab al-Maliki, Ibn ‘Abidin dan lain-lain. Dari kalangan ahli hadits di antaranya Ibn al-’Arabi al-Maliki, Ibn al-Atsir, al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafzih as-Sakhawi, al-Hafzih as-Suyuthi dan lain-lain. Termasuk dari kalangan ahli bahasa sendiri, seperti al-Fayyumi, al-Fairuzabadi, az-Zabidi dan lainnya. Dengan demikian bid’ah dalam istilah syara’ terbagi menjadi dua: Bid’ah Mahmudah (bid’ah terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (bid’ah tercela). Pembagian bid’ah menjadi dua bagian ini dapat dipahami dari hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

 

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)ه

“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “Yang tidak sesuai dengannya”, bahwa perkara baru yang tertolak adalah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang tidak bertentangan dan tidak menyalahi syari’at maka ia tidak tertolak. Bid’ah dilihat dari segi wilayahnya terbagi menjadi dua bagian; Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) dan bid’ah dalam cabang-cabang agama, yaitu bid’ah dalam Furu’, atau dapat kita sebut Bid’ah ‘Amaliyyah. Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) adalah perkara-perkara baru dalam masalah akidah yang menyalahi akidah Rasulullah dan para sahabatnya.

Dalil-Dalil Bid’ah Hasanah

Al-Muhaddits al-‘Allamah as-Sayyid ‘Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani dalam kitab Itqan ash-Shun’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, menuliskan bahwa di antara dalil-dalil yang menunjukkan adanya bid’ah hasanah adalah sebagai berikut (Lihat Itqan ash-Shun’ah, h. 17-28):

1. Firman Allah dalam QS. al-Hadid: 27:

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ (الحديد: 27 )ه

“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)

Ayat ini adalah dalil tentang adanya bid’ah hasanah. Dalam ayat ini Allah memuji ummat Nabi Isa terdahulu, mereka adalah orang-orang muslim dan orang-orang mukmin berkeyakinan akan kerasulan Nabi Isa dan bahwa berkeyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Allah memuji mereka karena mereka kaum yang santun dan penuh kasih sayang, juga karena mereka merintis rahbaniyyah. Praktek Rahbaniyyah adalah perbuatan menjauhi syahwat duniawi, hingga mereka meninggalkan nikah, karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah. Dalam ayat di atas Allah mengatakan “Ma Katabnaha ‘Alaihim”, artinya: “Kami (Allah) tidak mewajibkan Rahbaniyyah tersebut atas mereka, melainkan mereka sendiri yang membuat dan merintis Rahbaniyyah itu untuk tujuan mendekatkan diri kepada Allah”. dalam ayat ini Allah memuji mereka, karena mereka merintis perkara baru yang tidak ada nash-nya dalam Injil, juga tidak diwajibkan bahkan tidak sama sekali tidak pernah dinyatakan oleh Nabi ‘Isa al-Masih kepada mereka. Melainkan mereka yang ingin berupaya semaksimal mungkin untuk taat kepada Allah, dan berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada-Nya dengan tidak menyibukkan diri dengan menikah, menafkahi isteri dan keluarga. Mereka membangun rumah-rumah kecil dan sederhana dari tanah atau semacamnya di tempat-tempat sepi dan jauh dari orang untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah.

2. Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)ه)

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegangteguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegangteguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya.

3. Hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

 

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)ه

“Barang siapa yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang tidak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan tentang adanya bid’ah hasanah. Karena seandainya semua bid’ah pasti sesat tanpa terkecuali, niscaya Rasulullah akan mengatakan “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini apapun itu, maka pasti tertolak”. Namun Rasulullah mengatakan, sebagaimana hadits di atas: “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini yang tidak sesuai dengannya, artinya yang bertentangan dengannya, maka perkara tersebut pasti tertolak”. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perkara yang baru itu ada dua bagian: Pertama, yang tidak termasuk dalam ajaran agama, karena menyalahi kaedah-kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang sesuai dengan kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan sebagai perkara baru yang dibenarkan dan diterima, ialah yang disebut dengan bid’ah hasanah.

4. Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab secara tegas mengatakan tentang adanya bid’ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama’ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan sebagai bid’ah hasanah. Beliau memuji praktek shalat tarawih berjama’ah ini, dan mengatakan: “Ni’mal Bid’atu Hadzihi”. Artinya, sebaik-baiknya bid’ah adalah shalat tarawih dengan berjama’ah. Kemudian dalam hadits Shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab ini menambah kalimat-kalimat dalam bacaan talbiyah terhadap apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Bacaan talbiyah beliau adalah:

 

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

5. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud terhadap kalimat-kalimat Tasyahhud yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

Tentang kaliamat tambahan dalam Tasyahhud-nya ini, ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”, artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”.

6. ‘Abdullah ibn ‘Umar menganggap bahwa shalat Dluha sebagai bid’ah, karena Rasulullah tidak pernah melakukannya. Tentang shalat Dluha ini beliau berkata:

إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوْا (رواه سعيد بن منصور بإسناد صحيح)ه

“Sesungguhnya shalat Dluha itu perkara baru, dan hal itu merupakan salah satu perkara terbaik dari apa yang mereka rintis”. (HR. Sa’id ibn Manshur dengan sanad yang Shahih)

Dalam riwayat lain, tentang shalat Dluha ini sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar mengatakan:

“Shalat Dluha adalah bid’ah, dan ia adalah sebaik-baiknya bid’ah”. (HR. Ibn Abi Syaibah)

Riwayat-riwayat ini dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari dengan sanad yang shahih.

7. Dalam sebuah hadits shahih, al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa’ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Ketika beliau mengangkat kepala setelah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Setelah selesai shalat, Rasulullah bertanya: “Siapakah tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah…”. Lalu Rasulullah berkata:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ

“Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya”.

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, mengatakan: “Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir di dalam shalat yang tidak ma’tsur, selama dzikir tersebut tidak menyalahi yang ma’tsur” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).

8. al-Imam an-Nawawi, dalam kitab Raudlah ath-Thalibin, tentang doa Qunut, beliau menuliskan sebagai berikut:

هذَا هُوَ الْمَرْوِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَزَادَ الْعُلَمَاءُ فِيْهِ: “وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ” قَبْلَ “تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ” وَبَعْدَهُ: “فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ”. قُلْتُ: قَالَ أَصْحَابُنَا: لاَ بَأْسَ بِهذِهِ الزِّيَادَةِ. وَقَالَ أَبُوْ حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيْجِيُّ وَءَاخَرُوْنَ: مُسْتَحَبَّةٌ

“Inilah lafazh Qunut yang diriwayatkan dari Rasulullah. Lalu para ulama menambahkan kalimat: “Wa La Ya’izzu Man ‘Adaita” sebelum “Tabarakta Wa Ta’alaita”. Mereka juga menambahkan setelahnya, kalimat “Fa Laka al-Hamdu ‘Ala Ma Qadlaita, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika”. Saya (an-Nawawi) katakan: Ashab asy-Syafi’i mengatakan: “Tidak masalah (boleh) dengan adanya tambahan ini”. Bahkan Abu Hamid, dan al-Bandanijiy serta beberapa Ashhab yang lain mengatakan bahwa bacaan tersebut adalah sunnah” (Raudlah ath-Thalibin, j. 1, h. 253-254).

Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Sayyi-ah

Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Hasanah. Di antaranya:

1. Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh. Orang yang pertama kali melakukannya adalah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah. Tentang ini Abu Hurairah berkata:

 

فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاري)ه

“Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat ketika akan dibunuh”. (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)

Lihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah menggunakan kata “Sanna” untuk menunjukkan makna “merintis”, membuat sesuatu yang baru yang belaum ada sebelumnya. Jelas, makna “sanna” di sini bukan dalam pengertian berpegang teguh dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang telah ditinggalkan orang. Salah seorang dari kalangan tabi’in ternama, yaitu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya tentang shalat dua raka’at ketika seorang akan dibunuh, beliau menjawab

“Dua raka’at shalat sunnah tersebut tersebut pernah dilakukan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy, dan kedua orang ini adalah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab) (al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ash-hab, j. 1, h. 358)

2. Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin ‘Affan. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum’ah).

3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur. Beliau adalah salah seorang tabi’in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka semua menganggap baik pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal ketika Rasulullah mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kepada para penulis wahyu, mereka semua menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya. Demikian pula di masa Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, beliau menyalin dan menggandakan mush-haf menjadi lima atau enam naskah, pada setiap salinan mush-haf-mush-haf tersebut tidak ada satu-pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Namun demikian, sejak setelah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya’mur tersebut kemudian semua umat Islam hingga kini selalu memakai titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ini dikatakan sebagai bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah tidak pernah melakukannya?! Jika demikian halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mush-haf-mush-haf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa ‘Utsman. Abu Bakar ibn Abu Dawud, putra dari Imam Abu Dawud penulis kitab Sunan, dalam kitabnya al-Mashahif berkata: “Orang yang pertama kali membuat titik-titik dalam Mush-haf adalah Yahya bin Ya’mur”. Yahya bin Ya’mur adalah salah seorang ulama tabi’in yang meriwayatkan (hadits) dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar dan lainnya. Demikian pula penulisan nama-nama surat di permulaan setiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir setiap ayat, penulisan juz di setiap permulaan juz, juga penulisan hizb, Nishf (pertengahan Juz), Rubu’ (setiap seperempat juz) dalam setiap juz dan semacamnya, semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam ini kemudian semua itu adalah bid’ah yang diharamkan?!

4. Pembuatan Mihrab dalam majid sebagai tempat shalat Imam, orang yang pertama kali membuat Mihrab semacam ini adalah al-Khalifah ar-Rasyid ‘Umar ibn Abd al-’Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini kemudian diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia ketika mereka membangun masjid. Siapa berani mengatakan bahwa itu adalah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman sekarang memiliki mihrab?! Siapa yang tidak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz sebagai al-Khalifah ar-Rasyid?!

5. Peringatan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam (W 660 H), Mantan Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H), mantan Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama terkemuka lainnya.

6. Membaca shalawat atas Rasulullah setelah adzan adalah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awa-il, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki dalam kitab Mawahib al-Jalil, dan para ulama besar lainnya.

7. Menulis kalimat “Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam” setelah menulis nama Rasulullah termasuk bid’ah hasanah. Karena Rasulullah dalam surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja dan para penguasa di masa beliau hidup tidak pernah menulis kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat-suratnya, Rasulullah hanya menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya: “Dari Muhammad Rasulullah kepada Si Fulan…”.

8. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh. Seperti tarekat ar-Rifa’iyyah, al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya berjumlah sekitar 40 tarekat. Pada asalnya, tarekat-tarekat ini adalah bid’ah hasanah, namun kemudian sebagian pengikut beberapa tarekat ada yang menyimpang dari ajaran dasarnya. Namun demikian hal ini tidak lantas menodai tarekat pada peletakan atau tujuan awalnya.

Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Sayyi-ah. di antaranya sebagai berikut:

1. Bid’ah-bid’ah dalam masalah pokok-pokok agama (Ushuluddin), di antaranya seperti:

A. Bid’ah Pengingkaran terhadap ketentuan (Qadar) Allah. Yaitu keyakinan sesat yang mengatakan bahwa Allah tidak mentaqdirkan dan tidak menciptakan suatu apapun dari segala perbuatan ikhtiar hamba. Seluruh perbuatan manusia, -menurut keyakinan ini-, terjadi dengan penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah tidak menciptakan keburukan. Menurut mereka, Allah hanya menciptakan kebaikan saja, sedangkan keburukan yang menciptakannya adalah hamba sendiri. Mereka juga berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, dan juga bukan seorang kafir, melainkan berada pada posisi di antara dua posisi tersebut, tidak mukmin dan tidak kafir. Mereka juga mengingkari syafa’at Nabi. Golongan yang berkeyakinan seperti ini dinamakan dengan kaum Qadariyyah. Orang yang pertama kali mengingkari Qadar Allah adalah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, sebagaimana hal ini telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Yahya ibn Ya’mur.

B. Bid’ah Jahmiyyah. Kaum Jahmiyyah juga dikenal dengan sebutan Jabriyyah, mereka adalah pengikut Jahm ibn Shafwan. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba itu majbur (dipaksa); artinya setiap hamba tidak memiliki kehendak sama sekali ketika melakukan segala perbuatannya. Menurut mereka, manusia bagaikan sehelai bulu atau kapas yang terbang di udara sesuai arah angin, ke arah kanan dan ke arah kiri, ke arah manapun, ia sama sekali tidak memiliki ikhtiar dan kehendak.

C. Bid’ah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar.

D. Bid’ah sesat yang mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh setelah para nabi atau orang-orang saleh tersebut meninggal. Atau pengkafiran terhadap orang yang tawassul dengan para nabi atau orang-orang saleh di masa hidup mereka namun orang yang bertawassul ini tidak berada di hadapan mereka. Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah sesat ini adalah Ahmad ibn ‘Abd Al-Halim ibn Taimiyah al-Harrani (W 728 H), yang kemudian diambil oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan para pengikutnya yang dikenal dengan kelompok Wahhabiyyah.

2. Bid’ah-bid’ah ‘Amaliyyah yang buruk. Contohnya menulis huruf (ص) atau (صلعم) sebagai singkatan dari “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” setelah menuliskan nama Rasulullah. Termasuk dalam bahasa Indonesia menjadi “SAW”. Para ahli hadits telah menegaskan dalam kitab-kitab Mushthalah al-Hadits bahwa menuliskan huruf “shad” saja setelah penulisan nama Rasulullah adalah makruh. Artinya meskipun ini bid’ah sayyi-ah, namun demikian mereka tidak sampai mengharamkannya. Kemudian termasuk juga bid’ah sayyi-ah adalah merubah-rubah nama Allah dengan membuang alif madd (bacaan panjang) dari kata Allah atau membuang Ha’ dari kata Allah.

Kerancuan Pendapat Yang Mengingkari Bid’ah Hasanah

1. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah biasa berkata: “Bukankah Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Dawud dari sahabat al-‘Irbadl ibn Sariyah telah bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود)ه

Ini artinya bahwa setiap perkara yang secara nyata tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits atau tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan atau al-Khulafa’ ar-Rasyidun maka perkara tersebut dianggap sebagai bid’ah sesat .

Jawab: Hadits ini lafazhnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154). Kemudian al-Imam an-Nawawi membagi bid’ah menjadi lima macam. Beliau berkata: “Jika telah dipahami apa yang telah aku tuturkan, maka dapat diketahui bahwa hadits ini termasuk hadits umum yang telah dikhususkan. Demikian juga pemahamannya dengan beberapa hadits serupa dengan ini. Apa yang saya katakan ini didukung oleh perkataan ‘Umar ibn al-Khaththab tentang shalat Tarawih, beliau berkata: “Ia (Shalat Tarawih dengan berjama’ah) adalah sebaik-baiknya bid’ah”. Dalam penegasan al-Imam an-Nawawi, meski hadits riwayat Abu Dawud tersebut di atas memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف: 25

Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum ‘Ad telah menghancurkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kull”. Adapun dalil-dalil yang men-takhshish hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” riwayat Abu Dawud ini adalah hadits-hadits dan atsar-atsar yang telah disebutkan dalam dalil-dalil adanya bid’ah hasanah.

2. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah biasanya berkata: “Hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim adalah khusus berlaku ketika Rasulullah masih hidup. Adapun setelah Rasulullah meninggal maka hal tersebut menjadi tidak berlaku lagi”.

Jawab: Di dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:

لاَ تَثْبُتُ الْخُصُوْصِيَّةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ

“Pengkhususan -terhadap suatu nash- itu tidak boleh ditetapkan kecuali harus berdasarkan adanya dalil”.

Kita katakan kepada mereka: “Mana dalil yang menunjukan kekhususan tersebut?! Justru sebaliknya, lafazh hadits riwayat Imam Muslim di atas menunjukkan keumuman, karena Rasulullah tidak mengatakan “Man Sanna Fi Hayati Sunnatan Hasanatan…” (Barangsiapa merintis perkara baru yang baik di masa hidupku…), atau juga tidak mengatakan: “Man ‘Amila ‘Amalan Ana ‘Amiltuh Fa Ahyahu…” (Barangsiapa mengamalkan amal yang telah aku lakukan, lalu ia menghidupkannya…). Sebaliknya Rasulullah mengatakan secara umum: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, dan tentunya kita tahu bahwa Islam itu tidak hanya yang ada pada masa Rasulullah saja”. Kita katakan pula kepada mereka: Berani sekali kalian mengatakan hadits ini tidak berlaku lagi setelah Rasulullah meninggal?! Berani sekali kalian menghapus salah satu hadits Rasulullah?! Apakah setiap ada hadits yang bertentangan dengan faham kalian maka berarti hadits tersebut harus di-takhshish, atau harus d-nasakh (dihapus) dan tidak berlaku lagi?! Ini adalah bukti bahwa kalian memahami ajaran agama hanya dengan didasarkan kepada “hawa nafsu” belaka.

3. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah terkadang berkata: “Hadits riwayat Imam Muslim: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” sebab munculnya adalah bahwa beberapa orang yang sangat fakir memakai pakaian dari kulit hewan yang dilubangi tengahnya lalu dipakaikan dengan cara memasukkan kepala melalui lubang tersebut. Melihat keadaan tersebut wajah Rasulullah berubah dan bersedih. Lalu para sahabat bersedekah dengan harta masing-masing dan mengumpulkannya hingga menjadi cukup banyak, kemudian harta-harta itu diberikan kepada orang-orang fakir tersebut. Ketika Rasulullah melihat kejadian ini, beliau sangat senang dan lalu mengucapkan hadits di atas. Artinya, Rasulullah memuji sedekah para sahabatnya tersebut, dan urusan sedekah ini sudah maklum keutamaannya dalam agama”.

Jawab: Dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:

اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

“Yang dijdikan sandaran itu -dalam penetapan dalil itu- adalah keumuman lafazh suatu nash, bukan dari kekhususan sebabnya”.

Dengan demikian meskipun hadits tersebut sebabnya khusus, namun lafazhnya berlaku umum. Artinya yang harus dilihat di sini adalah keumuman kandungan makna hadits tersebut, bukan kekhususan sebabnya. Karena seandainya Rasulullah bermaksud khusus dengan haditsnya tersebut, maka beliau tidak akan menyampaikannya dengan lafazh yang umum. Pendapat orang-orang anti bid’ah hasanah yang mengambil alasan semacam ini terlihat sangat dibuat-buat dan sungguh sangat aneh. Apakah mereka lebih mengetahui agama ini dari pada Rasulullah sendiri?!

4. Sebagian kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah mengatakan: “Bukan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” yang di-takhshish oleh hadits “Man Sanna Fi al-Isalam Sunnatan Hasanah…”. Tetapi sebaliknya, hadits yang kedua ini yang di-takhshish oleh hadits hadits yang pertama”.

Jawab: Ini adalah penafsiran “ngawur” dan “seenak perut” belaka. Pendapat semacam itu jelas tidak sesuai dengan cara para ulama dalam memahami hadits-hadits Rasulullah. Orang semacam ini sama sekali tidak faham kalimat “’Am” dan kalimat “Khas”. Al-Imam an-Nawawi ketika menjelaskan hadits “Man Sanna Fi al-Islam…”, menuliskan sebagai berikut:

فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ “فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ” وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.

“Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta memperingatkan masyarakat dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan terhadap hadits Nabi yang lain, yaitu terhadap hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu adalah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.

As-Sindi mengatakan dalam kitab Hasyiyah Ibn Majah:
قَوْلُهُ “سُنَّةً حَسَنَةً” أَيْ طَرِيْقَةً مَرْضِيَّةً يُقْتَدَى بِهَا، وَالتَّمْيِيْزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّـيِّئَةِ بِمُوَافَقَةِ أُصُوْلِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا.

“Sabda Rasulullah: “Sunnatan Hasanatan…” maksudnya adalah jalan yang diridlai dan diikuti. Cara membedakan antara bid’ah hasanah dan sayyi-ah adalah dengan melihat apakah sesuai dengan dalil-dalil syara’ atau tidak”.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan sebagai berikut:

وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ.

“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq para ulama adalah bahwa jika perkara baru tersebut masuk dan tergolong kepada hal yang baik dalam syara’  berarti termasuk bid’ah hasanah, dan jika tergolong hal yang buruk dalam syara’ berarti termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).

Dengan demikian para ulama sendiri yang telah mengatakan mana hadits yang umum dan mana hadits yang khusus. Jika sebuah hadits bermakna khusus, maka mereka memahami betul hadits-hadits mana yang mengkhususkannya. Benar, para ulama juga yang mengetahui mana hadits yang mengkhususkan dan mana yang dikhususkan. Bukan semacam mereka yang membuat pemahaman sendiri yang sama sekali tidak di dasarkan kepada ilmu. Dari penjelasan ini juga dapat diketahui bahwa penilaian terhadap sebuah perkara yang baru, apakah ia termasuk bid’ah hasanah atau termasuk sayyi-ah, adalah urusan para ulama. Mereka yang memiliki keahlian untuk menilai sebuah perkara, apakah masuk kategori bid’ah hasanah atau sayyi-ah. Bukan orang-orang awam atau orang yang menganggap dirinya alim padahal kenyataannya ia tidak paham sama sekali.

5. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah mengatakan: “Bid’ah yang diperbolehkan adalah bid’ah dalam urusan dunia. Dan definisi bid’ah dalam urusan dunia ini sebenarnya bid’ah dalam tinjauan bahasa saja. Sedangkan dalam urusan ibadah, bid’ah dalam bentuk apapun adalah sesuatu yang haram, sesat bahkan mendekati syirik”.

Jawab: Subhanallah al-’Azhim. Apakah berjama’ah di belakang satu imam dalam shalat Tarawih, membaca kalimat talbiyah dengan menambahkan atas apa yang telah diajarkan Rasulullah seperti yang dilakukan oleh sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab, membaca tahmid ketika i’tidal dengan kalimat “Rabbana Wa Laka al-Hamd Handan Katsiran Thayyiban Mubarakan Fih”, membaca doa Qunut, melakukan shalat Dluha yang dianggap oleh sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar sebagai bid’ah hasanah, apakah ini semua bukan dalam masalah ibadah?! Apakah ketika seseorang menuliskan shalawat: “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” atas Rasulullah tidak sedang beribadah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i’rab-nya tidak sedang beribadah kepada Allah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an tersebut hanya “bercanda” dan “iseng” saja, bahwa ia tidak akan memperoleh pahala karena membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i’rab-nya?! Sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar yang nyata-nyata dalam shalat, di dalam tasyahhud-nya menambahkan “Wahdahu La Syarika Lahu”, apakah ia tidak sedang melakukan ibadah?! Hasbunallah. Kemudian dari mana ada pemilahan bid’ah secara bahasa (Bid’ah Lughawiyyah) dan bid’ah secara syara’?! Bukankah ketika sebuah lafazh diucapkan oleh para ulama, yang notebene sebagai pembawa ajaran syari’at, maka harus dipahami dengan makna syar’i dan dianggap sebagai haqiqah syar’iyyah?! Bukankah ‘Umar ibn al-Khatththab dan ‘Abdullah ibn Umar mengetahui makna bid’ah dalam syara’, lalu kenapa kemudian mereka memuji sebagian bid’ah dan mengatakannya sebagai bid’ah hasanah, bukankah itu berarti bahwa kedua orang sahabat Rasulullah yang mulia dan alim ini memahami adanya bid’ah hasanah dalam agama?! Siapa berani mengatakan bahwa kedua sahabat agung ini tidak pernah mendengar hadits Nabi “Kullu Bid’ah Dlalalah”?! Ataukah siapa yang berani mengatakan bahwa dua sahabat agung tidak memahami makna “Kullu” dalam hadits “Kullu Bid’ah Dlalalh” ini?! Kita katakan kepada mereka yang anti terhadap bid’ah hasanah: “Sesungguhnya sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dan sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar, juga para ulama, telah benar-benar mengetahui adanya kata “Kull” di dalam hadits tersebut. Hanya saja orang-orang yang mulia ini memahami hadits tersebut tidak seperti pemahaman orang-orang Wahhabiyyah yang sempit pemahamannya ini. Para ulama kita tahu bahwa ada beberapa hadits shahih yang jika tidak dikompromikan maka satu dengan lainnya akan saling bertentangan. Oleh karenanya, mereka mengkompromikan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” dengan hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, bahwa hadits yang pertama ini di-takhshish dengan hadits yang kedua. Sehingga maknanya menjadi: “Setiap bid’ah Sayyi-ah adalah sesat”, bukan “Setiap bid’ah itu sesat”. Pemahaman ini sesuai dengan hadits lainnya, yaitu sabda Rasulullah:

مَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً ضَلاَلَةً لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه الترمذيّ وابن ماجه)ه

“Barangsiapa merintis suatu perkara baru yang sesat yang tidak diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia terkena dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Inilah pemahaman yang telah dijelaskan oleh para ulama kita sebagai Waratsah al-Anbiya’.

6. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah mengatakan: “Perkara-perkara baru tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, dan para sahabat tidak pernah melakukannya pula. Seandainya perkara-perkara baru tersebut sebagai sesuatu yang baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”.

Jawab: Baik, Rasulullah tidak melakukannya, apakah beliau melarangnya? Jika mereka berkata: Rasulullah melarang secara umum dengan sabdanya: “Kullu Bid’ah Dlalalah”. Kita jawab: Rasulullah juga telah bersabda: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan Fa Lahu Ajruha Wa Ajru Man ‘Amila Biha…”. Bila mereka berkata: Adakah kaedah syara’ yang mengatakan bahwa apa yang tidak dilakukan oleh Rasulullah adalah bid’ah yang diharamkan? Kita jawab: Sama sekail tidak ada. Lalu kita katakan kepada mereka: Apakah suatu perkara itu hanya baru dianggap mubah (boleh) atau sunnah setelah Rasulullah sendiri yang langsung melakukannya?! Apakah kalian mengira bahwa Rasulullah telah melakukan semua perkara mubah?! Jika demikian halnya, kenapa kalian memakai Mushaf (al-Qur’an) yang ada titik dan harakat i’rab-nya?! Padahal jelas hal itu tidak pernah dibuat oleh Rasulullah, atau para sahabatnya! Apakah kalian tidak tahu kaedah Ushuliyyah mengatakan

التَّرْكُ لاَ يَقْتَضِي التَّحْرِيْم

“Meninggalkan suatu perkara tidak tidak menunjukkan bahwa perkara tersebut sesuatu yang haram”.

Artinya, ketika Rasulullah atau para sahabatnya tidak melakukan suatu perkara tidak berarti kemudian perkara tersebut sebagai sesuatu yang haram. Sudah maklum, bahwa Rasulullah berasal dari bangsa manusia, tidak mungkin beliau harus melakukan semua hal yang Mubah. Jangankan melakukannya semua perkara mubah, menghitung semua hal-hal yang mubah saja tidak bisa dilakukan oleh seorangpun. Hal ini karena Rasulullah disibukan dalam menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdakwah, mendebat orang-orang musyrik dan ahli kitab, memerangi orang-orang kafir, melakukan perjanjian damai dan kesepakatan gencatan senjata, menerapkan hudud, mempersiapkan dan mengirim pasukan-pasukan perang, mengirim para penarik zakat, menjelaskan hukum-hukum dan lainnya. Bahkan dengan sengaja Rasulullah kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah karena takut dianggap wajib oleh ummatnya. Atau sengaja beliau kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah hanya karena khawatir akan memberatkan ummatnya jika beliau terus melakukan perkara sunnah tersebut. Dengan demikian orang yang mengharamkan satu perkara hanya dengan alasan karena perkara tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah pendapat orang yang tidak mengerti ahwal Rasulullah dan tidak memahami kaedah-kaedah agama.

Kesimpulan

Dari penjelasan yang cukup panjang ini kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa para sahabat Rasulullah, para tabi’in, para ulama Salaf, mereka semuanya memahami pembagian bid’ah kepada dua bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi-ah. Yang kita sebutkan dalam tulisan ini bukan hanya pendapat dari satu atau dua orang ulama saja, melainkan sekian banyak ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf di atas keyakinan ini. Lembaran buku ini tidak akan cukup bila harus semua nama mereka kita kutip di sini. Dengan demikian bila ada orang yang menyesatkan pembagian bid’ah kepada dua bagian ini, maka berarti ia telah menyesatkan seluruh ulama dari masa para sahabat Nabi hingga sekarang ini. Dari sini kita bertanya, apakah kemudian hanya dia sendiri yang benar, sementara semua ulama tersebut adalah orang-orang sesat?! Tentu terbalik, dia sendiri yang sesat, dan para ulama tersebut di atas kebenaran. Orang atau kelompok yang “keras kepala” seperti ini hendaklah menyadari bahwa mereka telah menyempal dari para ulama dan mayoritas ummat Islam. Adakah mereka merasa lebih memahami al-Qur’an dan Sunnah dari pada para Sahabat, para Tabi’in, para ulama Salaf, para ulama Hadits, Fikih dan lainnya.

Wallahu A`lam

Pemahaman tentang Bid`ah (2)

Popularity: 4% [?]

Tafakkur..

Kematian..

Tidak sedikit yang menangisi  jasad yang telah mati, akan tetapi tidak menangisi hati yang mati, padahal sesungguhnya matinya hati lebih menyedihkan dari pada matinya jasad. Perlu senantiasa menengok diri adakah hati masih hidup, berpenyakit, atau sudah mati. Bila penyakit fisik datang bersegera mencari obat kemanapun, akan tetapi tidak peduli akan hati yang sakit. Menyebarnya penyakit jasad bikin ketakutan, melakukan segala usaha pencegahan, sangat berhati-hati menghadapinya, mengeluarkan upaya dan harta untuk mencegahnya, akan tetapi tidak demikian kesiapsiagaan untuk menghadapi penyakit hati. Bahkan kepada orang-orang yang berusaha mencegah menyebarnya penyakit hati, dianggap sebagai kelompok terbelakang, primitif  dan tidak mengikuti trend. Mengapa diri yang apabila merasakan sedikit sakit, rasa sesak di dada, atau sedikit sakit dijantung segera mersakan kebingungan dan segera mencari obatnya, sementara jika hati yang terluka oleh perbuatan maksiat, tak segera berobat dengan taubat dan penyesalan?. Allah Ta`ala berfirman didalam Surah As-Syu`ara, ayat 88-89 : “(yaitu) dihari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.  Sungguh diri tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Popularity: 2% [?]

Tafakkur..Merindukan ALLAH..

Ketika malam telah larut, alam fikiranku melayang mengembara kearah kegelapan
malam, fikiranku menerawang kesebuah kuburan yang kaku, gundukan tanah merah
yang dingin, perut bumi yang menjadi kediamanku kelak, didalamnya tak lain cacing
dan serangga pemakan bangkai, tubuhku yang tak mampu menepis binatang yang
menggerogotiku dan menjadikan tubuhku sarang dan tempat bertelur, alangkah tak
berdayanya tubuh ini, sahabatku meninggalkanku, anak istriku meninggalkanku,
orangtuaku meninggalkanku, semua orang yang kukenal melupakanku, mereka tak
mau ikut mati bersamaku, mereka tak mau tahu lagi apa yang menimpaku dikuburku,
mereka tak mau walau hanya menepiskan cacing yang menggerogoti tubuhku, mereka
tak perduli lagi tubuhku membusuk sedikit demi sedikit, hingga tubuhku hancur dan
berbau, hingga tubuhku menjadi tulang, lalu habis musnah menjadi tanah, kemana aku
akan pergi, ruhku akan melayang memenuhi panggilan Penciptaku.
Wahai Allah, tak ada selain Mu, Engkaulah yang akan menepiskan semua serangga
yang mendekati tubuhku, akan Kau jaga tubuhku yang masuk dalam perut Bumi,
Engkau mendengar jeritan hatiku yang merindukan Mu, maka dengarlah Wahai yang
menciptakan harapan, wahai yang menciptakan segala kerinduan, wahai yang
menciptakan keinginan untuk mengadu, kulontarkan kalimat yang kini hampir
memecahkan kalbuku,
Aku tak mempunyai selain Mu untuk mengadu, untuk menolong, untuk memberi, untuk
diharapkan, untuk bergerak, untuk bernafas, untuk berucap, untuk bersuara, untuk
mendengar, untuk melihat, untuk melangkah, untuk bergerak, untuk berfikir, untuk
makan, untuk minum, untuk tersenyum, untuk bergembira, untuk segala galanya,
selain Mu, semua yang kumiliki, dan yang tak kumilki adalah milik Mu, tubuhku milik
Mu, makananku milik Mu, semua yang kulihat milik Mu, semua yang kudengar Milik
Mu, semua yang kuuucapkan milik Mu, semua langkahku milik Mu, setiap nafasku milik
Mu, setiap detak jantungku milik Mu, perasaanku milik Mu, kerinduanku milik Mu,
harapanku milik Mu, kesedihanku milik Mu, kegembiraanku milik Mu, alangkah
indahnya wahai Rabb…, Karena Engkau memilikiku, Engkau menggenggam diriku,
Engkau mengaturku, Engkau menjagaku, Engkau melindungiku, Engkau
mengayomiku, Engkau melimpahkan kelembutan Mu padaku, aku merindukan Mu
wahai Allah, Engkau memanggilku agar aku dekat kepada Mu wahai Allah..
Wahai yang menciptakan cinta kasih di seluruh kalbu hamba Nya, Engkau
menghendaki aku mencintai Mu wahai Allah.., wahai yang menciptakan lidah saling
menyebut nama nama hamba Nya, Engkau menghendaki aku menyebut nama Mu
wahai Allah.., wahai yang menciptakan segala yang indah, keindahan yang terlihat dan
yang tak terlihat, keindahan yang terdengar dan tak terdengar, keindahan yang
terucapkan dan tak terucapkan, keindahan yang terasa dan tak dapat dirasa,
keindahan yang diketahui dan yang tak diketahui, keindahan yang tersaksikan dan
yang tersembunyi, semua keindahan itu berasal dari keindahan Mu wahai Allah, maka
betapa indahnya Engkau .., betapa lembutnya Engkau..
Maka Wahai Pencipta Keindahan, Wahai Pencipta Kelembutan, Wahai Pencipta Kasih
sayang, sebagaimana Engkau perlihatkan keindahan yang ada pada makhluk Mu,
sebagaimana Engkau perlihatkan kelembutan yang ada pada makhluk Mu,
sebagaimana Engkau perlihatkan kasih sayang yang ada pada makhluk Mu, maka
perlihatkan padaku Keindahan Mu wahai Allah, perlihatkan kelembutan Mu wahai
Allah.., perlihatkan kasih sayang Mu wahai Allah, walau hanya berupa harapan, walau
hanya berupa sangkaan, walau hanya berupa khayalan, walau hanya berupa
kerinduan, walau hanya berupa keinginan, walau hanya berupa airmata, walau hanya
berupa pemberian, walau hanya berupa lamunan, walau hanya berupa kemudahan,
walau hanya berupa pertolongan, asalkan aku mengetahui bahwa itu datang dari
kelembutan Mu, datang dari kasih sayang Mu, datang dari keindahan Mu,
Alangkah kecewa hamba yang hanya memiliki harapan, hamba yang hanya memiliki
khayalan, hamba yang hanya memiliki lamunan, hamba yang hanya memiliki
kerinduan, hamba yang hanya ingin dekat, hamba yang hanya mendambakan
kelembutan, hamba yang hanya mendambakan ayoman, hamba yang hanya
mendambakan kasih sayang, sedangkan modal semua harapanku hanyalah airmata,
apakah ia harus dikecewakan oleh yang Maha tak mengecewakan, alangkah hancur
perasaannya kalau kerinduannya ditolak oleh yang Maha tak menolak kerinduan,
alangkah berkeping kepingnya kecintaannya, bila keinginannya untuk dekat tertolak
oleh yang Maha tak menolak hamba Nya yang ingin dekat, itu semua tak ada pada
dzat Mu, itu semua tak ada dalam sifat Mu, itu semua tak ada pada perbuatan Mu,
Apalagi yang membuatku tertolak sedangkan Engkau yang Maha menerima, apalagi
yang membuatku tersingkir sedangkan Engkau yang Maha merangkul, apalagi yang
membuatku terjauhkan, sedangkan Engkaulah yang maha mendekatkan, salahkah aku
merindukan Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan kerinduanku pada Mu,
salahkah aku menginginkan dekat pada Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan
keinginanku untuk dekat kepada Mu, salahkah aku merasa tenggelam dalam samudra
Kelembutan Mu, sedangkan Engkaulah yang menciptakan perasaa itu dihatiku.
Wahai Allah.., wahai yang menamakan diri Nya Allah, wahai yang menginginkan nama
Nya dipanggil Allah, wahai yang menginginkan lidahku memanggil Dzat Nya dengan
panggilan Allah, wahai yang menginginkan aku mengharapkan Nya dengan mengingat
nama Allah, wahai yang menciptakan lidahku bergetar menyebut Nama Allah, wahai
yang memberikan kemampuan pada jemariku menuliskan nama Allah.., maka dengan
kemauan Mu kusebut namamu Allah.., dengan keinginan Mu kurindukan Engkau
Allah.., dengan keinginan Mu aku ingin dekat kepada Mu wahai Allah,
Salahkah aku berkeinginan, salahkah aku merindukan, salahkah aku ingin dekat,
sedangkan semua getaran kalbuku itu adalah keinginan Mu wahai Allah, maka
sebagaimana Kau jadikan cacing merangkak tanpa tangan dan kaki, maka jadikan aku
merangkak kepadamu tanpa hambatan, sebagaimana Kau jadikan anjing najis
bertasbih mensucikan Mu, maka jadikan aku pendosa hina yang mendambakanmu,
sebagaimana kaujadikan air mengalir menjadi beku, maka jadikan harapanku mengalir
kearah Mu dan membeku dipintu Mu, sebagaimana Kau jadikan gunung batu menjadi
debu, maka jadikan seluruh kesalahanku menjadi debu dihadapan Keagungan Mu,
sebagaimana Kau jadikan bumi perkasa terinjak injak, maka jadikan hawa nafsuku
terinjak injak kerinduanku kepada Mu, sebagaimana Kau jadikan Raja berwibawa
terkalahkan dan terhinakan, maka jadikan kesombonganku terhinakan oleh
kewibawaan Mu, sebagaimana kau jadikan sesuatu yang bergerak menjadi diam,
maka jadikan tubuhku yang bergerak berubah diam dari segala yang tak Kau ridhai,
sebagaimana kau jadikan semua yang ada menjadi fana, maka jadikanlah gunung
dosa ini fana dalam kelembutan Mu, sebagaimana kau jadikan yang tak mungkin
menjadi kepastian, maka Jadikan semua ketidak mungkinanku untuk dekat menjadi
janji kepastian.

sumber:Kenalilah Akidahmu oleh Habib Munzir Al Musawa

Popularity: 5% [?]

Malam Lailatul Qodar dan Kapan Lailatul Qadar itu ?


Sudah sering kita dengar istilah Lailatul Qadar, bahkan selalu lekat dalam ingatan. Namun demikian, nyatanya kita tidak akan pernah mengenal hakikat Lailatul Qadar itu sendiri, lantaran masalahnya amat ghaib. Pengetahuan kita terbatas hanya pada apa yang telah ditunjukkan di dalam berbagai nash, baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah serta interpretasinya.

Secara etimologis, “lailah” artinya malam, dan “al-qadar” artinya takdir atau kekuasaan. Adapun secara terminologis, dapat kita coba dengan cara mengamati ayat berikut ini :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malm kemuliaan (Lailatul Qadar)” (QS Al-Qadar (97):1)

Dari pernyataan bahwa Al-Qur’an tersebut diturunkan pada saat Lailatul Qadar, dapat kita tangkap pengertian, yakni; pertama , Lailatul Qadar merupakan dari suatu malam, saat diturunkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Walhasil, Lailatul Qadar itu terjadi hanya satu kali, tidak sebelum dan sesudahnya. Akan tetapi keagungan dan keutamaannya itu diabadikan oleh Allah SWT untuk tahun-tahun berikutnya. Tegasnya, Lailatul Qadar yang ada sekarang ini, hanyalah semacam hari peringatan yang memiliki berbagai keistimewaan yang sangat luar biasa.

Kedua, Lailatul Qadar merupakan sebutan dari suatu malam pada setiap bulan Ramadhan, yang dahulu kala pernah bersamaan dengan peristiwa diturunkannya Al Qur’an secara keseluruhan.

Kedua pengertian tersebut di atas, merupakan hasil analisa yang boleh jadi dapat diterima oleh semua pihak, lantaran sama sekali tidak mengingkari keutamaan Lailatul Qadar. Sedangkan hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahui. Sementara lailatul Qadar itu sendiri, dalam sebuah ayat dinyatakan sebagai Lailah Mubarakah (malam kebaikan).

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi.”(Q.S Ad Dukhaan (44):3)

Dalam masalah ini, para Muffasir menjelaskan bahwa Lailatul Qadar itu adalah saat diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul’Izzah, sebelum diwahyukan kepada Rasulullah SAW secara berangsur. Olah sebab itu, tidaklah dapat disamakan antara Lailatul Qadar dengan Nuzulul Qur’an atau turunnya ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Betapa mulia dan begitu istimewanya Lailatul qadar itu, sebagai rahmat dan nikmat Allah SWT bagi seluruh ummat Muhammad SAW. Sehingga tak satupun dari kita yang tak suka jika mampu meraihnya. Dan wajar pula, jika malam jatuhnya Lailatul Qadar itupun selau dipertanyakan, bahkan nyaris selalu menimbulkan perselisihan pendapat.

Kapan Lailatul Qadar?

Menurut suatu pendapat ; Lailatul Qadar itu jatuh pada malam ke 27 setiap bulan Ramadhan. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا، فَلْيَتَحَرِّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

“Siapapaun mengintainya maka hendaklah mengintainya pada malam ke dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad dari Ibnu ‘Umar)

Sementara menurut pendapat yang lain; perintah Rasulullah SAW untuk mengintai pada malam ke 27 itu, bukan merupakan suatu kepastian bahwa Lailatul Qadar akan terjadi pada malam itu. Akan tetapi hanya sebagai petunjuk, bahwa pada malam itu memang kemungkinan besar akan terjadi. Terbukti dengan pernyataan Rasulullah SAW sendiri dalam hadist yang lain.

أخْبَرَنَا رسول الله صلى الله عليه و سلم عن لَيْلَةِ الْقَدْرِقال : هي في رمضان في العشر الأواخر ، في إحدى و عشرين أو ثلاث و عشرين أو خمس و عشرين أو سبع و عشرين أو تسع و عشرين أو في آخِرِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

“Rasulullah SAW telah memberitakan kepadaku tentang Lailatul Qadar. Beliau bersabda: “Lailatul Qadar terjadi pada Ramadhan; dalam sepuluh hari terakhir. Malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dua puluh sembilan atau ,malam terakhir.”

Adapun yang dimaksud dengan malam terakhir dalam hadts di atas, tentunya jika sebulan Ramadhan itu hanya 29 hari. Sehingga malam yang ke 29 otomatis merupakan malam terakhir.

Dengan demikian, menurut kami pendapat yang kedua ini jauh lebih dasarnya ketimbang pendapat pertama. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa; jatuhnya Lailatul Qadar itu sama sekali tak dapat ditentukan secara pasti. Lantaran perupakan rahasia Allah SWT.

Lailatul Qadar yang agung itu—sebagaimana jawaban terdahulu sangatlah ghaib malam jatuhnya. Namun demikian, Rasulullah SAW telah memberi petunjuk kepada ummatnya bahwa jatuhnya itu di antara malam-malam ganjil pada sepuluh hari Ramadhan terakhir. Maka tidak mustahil, jika diantara hari-hari itu setiap tahunnya akan berubah-ubah, sebagaimana dapat dicerna pula dari berbagai hadits yang berbeda-beda penjelasannya.

Kemungkinan berubah-ubah tersebut, jika dimaksudkan bahwa Lailatul Qadar itu merupakan sebutan dari suatu malam pada setiap bulan Ramadhan yang dahulu kala pernah bersamaan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan. Adapun jika dimaksudkan bahwa, Lailatul Qadar hanya semacam hari peringatan, maka tidak mungkin jatuhnya Lailatul Qadar itu akan berubah, bahkan sampai kiamat nanti.

Selain itu, nampaknya perlu kita sadari pula, bahwa tidak adanya kepastian pada malam tertentu tentang jatuhnya Lailatul Qadar ini, justru banyak membawa hikmah yang antara lain, untuk mandapatkan keutamaan dan berkah dari saat turunnya Lailatul Qadar itu, kaum Muslimin tidak hanya dengan bertekun ibadah semalam saja. Akan tetapi harus selama 10 malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW beserta keluarganya.

Popularity: 15% [?]

Ceramah Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafiz

Khaul Syekh Abu Bakar bin Salim, di Cidodol, Kebayoran Lama, 03 Januari 2010.

Bismillahirrohmanir rohim, Alhamdulillah segala puji dan syukur kepada Allah Ta’ala, kita pada saat ini, saya dan kalian berkumpul dihadapan Allah SWT. Kita menanti dipintu Allah Yang Maha Pemurah yang Maha Dermawan. Semuanya ini disebutkan dalam dakwahnya Nabi Besar Muhammad SAW, pemimpin sekalian Rasul, dengan itulah berdiri tiang-tiang kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Nabi-Nya, kecintaan kepada orang-orang yang soleh, para awliya dan sholihin dan kaum mukminin.

Dan segala macam kemuliaan yang diberikan Allah SWT ini kepada kita saat ini, ini adalah pemberian yang diberikan Allah SWT secara cuma-Cuma tanpa didahului dengan uang muka dari kita sekalian. Wahai orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah SWT dengan beragam kemuliaan dimajelis ini, yang mana saat ini kita mencari rahmat dan karunia Allah SWT dan kita telah diberikan Allah SWT, maka perhatikanlah bahwa saat ini Allah sedang menatap kita sekalian.

Dan Allah SWT mengetahui apa yang ada didalam benak dan rahasia sanubari kita. Dan Allah SWT mengetahui apa yang kita sembunyikan didalam hati kita. Bagi Allah sama saja apa yang nampak kita utarakan ataupun kita sembunyikan, semuanya sama dimata Allah SWT. Apabila kalian mencari keridhoan dari  Allah SWT dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya, maka Allah SWT akan melimpahkan keridhoan-Nya  kepada kalian. Dan orang yang suka maksiat, Insya Allah dapat meraih keberkahan dari berkah orang-orang yang taat pula.

Apabila kita merayakan, bergembira dengan khaulnya Syekh Abu Bakar Bin Salim ini sesungguhnya kita bergembira dengan karunia yang diberikan Allah SWT. Dan kita merayakan bergembira dengan rahmat yang diberikan Allah SWT. Dan kita merayakan nikmat yang dikaruniakan Allah SWT. Dan kita bergembira dengan jasa yang Allah SWT berikan kepada kita sekalian. Dan kita merayakan warisan dari Nabi Muhammad SAW. Dan seseorang yang merayakan seorang pewaris, maka dia pun merayakan orang yang mewariskannya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Dan kita merayakan cahaya-cahaya iman dan yakin. Dan kita merayakan sifat-sifat yang mulia disisi Allah SWT.

Apabila kita saat ini berkumpul merayakan hal-hal yang mulia tersebut, orang-orang yang mulia yang dekat dengan Allah, maka sungguh pantas tidak diragukan bahwa  Allah pun akan mendekatkan kita kepada-Nya.

Berapa besar karunia Allah SWT untuk umat ini, berapa banyak orang yang masuk kedalam majelis ini, dalam keadaan tadinya dia jauh dari Allah, dia keluar dari majelis ini dalam keadaan sudah dekat dengan Allah. Bahkan berapa orang yang masuk kedalam majelis ini, tadinya dia dicatat sebagai orang yang sial, dia keluar dari majelis ini sebagai orang yang beruntung.

Dan berapa banyak orang yang hadir dalam majelis ini tadinya hatinya penuh dengan kekotoran, keluar dengan membawa hati yang bersih bercahaya. Berapa banyak orang yang hadir dalam majelis ini, hatinya gelap gulita, dia keluar dengan membawa hati yang terang benderang. Berapa banyak orang yang masuk dalam majelis ini dalam keadaan Allah SWT tidak suka, berpaling dengan orang tersebut, tetapi tidaklah dia keluar dari majelis ini melainkan Allah SWT mencintai orang tersebut.

Wahai orang-orang yang mencari kebaikan yang saya sebutkan ini, sungguh-sungguhlah dalam pencarianmu. Dan kembalilah kepada Allah SWT. Dan merendahlah, tunduklah kepada keagungan Allah SWT. Dan agungkan Allah SWT. Dan tetap tidak ada yang lebih agung dari Allah SWT. Dan tidak ada yang lebih besar dari Allah SWT. Dan tidak ada yang lebih dermawan dari Allah SWT.

Allah SWT yang telah mengangkat derajat Nabi Muhammad SAW. Allah SWT yang mengangkat derajat Nabi-Nabi, mengangkat derajat para malaikat dan para wali-wali serta kaum sholihin. Mereka adalah orang-orang yang sangat tinggi disisi Allah. Dan orang-orang yang mencari selain ketinggian selain dari yang mendekatkan kepada Allah maka mereka itulah orang-orang yang jatuh dan terjerumus.

Bumi telah menjadi saksi atas bergenerasi- generasi manusia, bergenerasi- generasi umat dan kelompok yang mana mereka mencari kemuliaan selain dari Allah, maka mereka pun hina dan terpuruk dijatuhkan oleh Allah SWT.

Diantara mereka yang mencari kemuliaan dan kehebatan melalui kehebatan senjata, seperti kaum ‘Ad kaumnya Nabi Hud yang mengatakan, “siapa yang lebih kuat dan lebih hebat dari kami?”. Yang lain lagi merasa hebat dengan harta yang ia miliki, yang demikian banyak hartanya seperti Qorun. Diantara mereka ada yang mencari kehebatan dan kemuliaan melalui hukum, pemerintahan serta kekuasaan seperti Fir’aun dan Namrud. Semuanya sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT, kami habisi mereka, kami ambil akibat perbuatan dosa mereka. Diantara mereka yang ditenggelamkan, yang dikirim halilintar, dihancurkan rumah mereka. Bukan Allah  yang menzholimi mereka, tetapi mereka yang menzholimi dirinya sendiri.

Dan sekarang dimuka bumi ini orang masing-masing mengadakan perkumpulan- perkumpulan untuk mencari kemuliaan, keamanan dan kehebatan selain dari Allah. Mereka orang-orang yang dengan pekumpulannya tersebut menuai keamanan, derajat yang tinggi dan yang lain sebagainya mereka menyangka bahwa orang-orang yang sebelumnya, dari umat-umat yang terdahulu itu, mereka mendapat kehebatan dari harta dan apa yang mereka miliki, dimata Allah SWT akan menambah kedudukan mereka.

Akan tetapi dengan majelis semacam inilah kita berharap kepada Allah SWT, dengan majelis inilah kita mencari dan meminta kepada Allah SWT, dan kita menuju dan bermaksud kepada Allah SWT. Dan kita bertumpu kepada Allah. Dan kita bersandar dan bergantung kepada Allah SWT. Dan kita mendekatkan diri dengan hal yang  mendekatkan kita dengan Allah SWT dan yang disukai oleh Allah SWT. Justru dengan keberadaan majelis semacam ini umat akan membaik dan akan menjadi semakin bagus.

Allah SWT mudah-mudahan memperbanyak majelis-majelis semacam ini dan Allah SWT mengabadikan pengaruhnya dalam jiwa kita. Dan kita dalam perkumpulan kita ini, diawal tahun yang mulia ini berdoa dan berharap kepada Allah SWT. Kita meminta agar Allah SWT menolak dari diri kita, dari seluruh kaum muslimin, dan seluruh rakyat Indonesia serta seluruh penjuru dunia berbagai macam bala’ dan musibah yang membawa keburukan bagi umat Islam ini.

Dan alangkah kuatnya apabila, betapa kuatnya karunia yang kita dapat dari Allah SWT, berdoa kepada Allah SWT dimajelis yang mulia ini, kita berdoa bersama-sama dan mengucapkan amin kepada Allah SWT.

Apabila keluar dari majelis ini hati-hati jiwa-jiwa yang tunduk kepada Allah, yang memohon kepada Allah SWT, yang luluh karena malu kepada Allah SWT maka dia telah keluar membawa rahmat dan karunia yag besar dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman seketika kalian meminta tolong kepada Allah SWT dan Allah SWT menjawab doa kalian. Malah semalam sebelum turunnya ayat ini Rasulullah SAW tidak bisa tidur, Beliau bermunajah dalam tahajudnya, “Ya Hayyu Ya Qoyyum”. Beliau banyak menangis. Beliau banyak memohon kepada Allah SWT. Maka Sayidina abu Bakar Ash Shidiq RA yang bersama Nabi ikut menangis dan memeluk Rasulullah SAW dan berkata , “Cukup ya Rasulullah, Allah SWT pasti akan mengabulkan doamu”. Dan Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana caranya mengetuk pintunya Allah SWT dan memohon kepada Allah SWT.

Sebaik-baiknya hal yang ada didalam hati kita pada saat Allah SWT sedang menatap hati dan batin kita adalah bagi Allah menemukan dalam hati kita penyesalan atas kesalahan dan dosa-dosa kita. Dan sesungguhnya sebagaimana dalam hadis, orang mukmin; dia memandang dosa yang dia lakukan, dosa pribadinya itu bagai gunung yang ada diatas kepalanya yang sewaktu-waktu bisa bisa menimpa dirinya dan membinasakannya. Adapun seorang munafik; menganggap dosa yang dia lakukan itu bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya yang bisa dia usir kapan waktu.

Ketika Imam Hasan Al Bashri melewati sekelompok kaum sedang beradu mulut tentang masalah qodho dan qodar tanpa didasari ilmu, mereka berbincang-bincang dalam masalah yang mereka tidak mengerti, maka Imam Hasan Al Bashri mengatakan, jika mereka masih memikirkan dosa-dosa mereka niscaya mereka tidak akan ada waktu untuk membicarakan hal-hal semacam ini.

Bagaimana halnya dengan seseorang yang setiap hari dan malam harinya dia habis waktunya dalam pandangan yang diharamkan oleh Allah SWT.  Bagaimana dengan seseorang yang habis waktunya dalam menjelek-jelekkan para orang-orang sholeh, sahabat Nabi dan keluarganya. Bagaimana dengan keadaan seseorang yang ingin mengatur, menganggap orang lain dari para pendahulunya, orang-orang besar, mau diatur dengan hukumnya dan mau menghakimi mereka seenak perutnya sendiri, menganggap mereka itu orang biasa dan kecil. Seandainya mereka memikirkan dosa mereka, niscaya mereka tidak akan tenggelam sibuk dalam hal-hal semacam begini.

Ini bukan sikap orang-orang yang memikirkan dosa-dosa mereka. Ini adalah yang di firmankan Allah SWT, dalam Al Qur’an yakni sifat-sifat yang mulia, dalam hal ini adalah orang-orang yang apabila datang ke Nabi setelah mereka, yakni yang mengatakan Rabbanafirlana ampuni kami sekalian dan juga dosa orang-orang sebelum kami pendahulu-pendahulu kami. Dan jangan jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yeng beriman. Sesungguhnya Kau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Syekh Abu Bakar bin Salim, beliau  mencari pengampunan dari Allah SWT untuk diri beliau dan orang-orang di zaman beliau. Dengan susah payah beliau meminta kepada Allah SWT. Beliau setiap malam menangis untuk Allah SWT. Beliau apabila disampaikan kepada beliau atau mendengar dari orang lain kalau ada orang lain yang menjelek-jelekan dan menghinakan beliau, beliau langsung berdoa dan mendoakan orang tersebut dan memohonkan ampunan karunia Allah SWT untuk orang itu.

Dan sesungguhnya itu apabila ada orang yang mengganggu beliau dalam waktu cepat dekat disusul musibah menimpa orang yang mengganggunya. Ditanya Syekh Abu Bakar bin Salim, “apakah kamu menyumpah orang-orang yang mengganggumu?”. Dijawab, “ tidak aku sama sekali tidak pernah menyumpahi orang islam, akan tetapi  Allah SWT yang murka terlebih dahulu, kecemburuan- Nya terhadap para wali-wali-Nya tanpa sebelum aku tahu, maka dibinasakan Allah SWT, kalau aku tahu aku akan minta tolong terlebih dahulu”.

Warisan dari Nabi Muhammad SAW, yang mana sifat Nabi Muhammad SAW tentang kaum munafikin ketika Beliau mengatakan,” Seandainya aku tahu kalau aku beristighfar untuk mereka lebih dari 70 kali akan diampuni Allah untuk mereka, maka aku akan beristghfar lebih dari 70 kali agar mereka diampuni”.

Syekh Abu Bakar Bin Salim, beliau membentuk majelis-majelis ilmu dan majelis zikir untuk orang awam dan orang khusus. Datang pada beliau murid-murid dari jauh, dari Syam, dari Mesir, dari Haromain dan dari tempat pelosok yang jauh untuk menimba ilmu kepadanya.

Beliau mendidik murid-muridnya, mendidik sekalian manusia untuk bersikap adab yang patut kepada Allah SWT. Sebagaimana kita dengar bahwasanya didapur beliau dimasak setiap harinya 700 sampai 1000 potong roti.

Suatu kali datang ke rumah beliau seorang wanita dengan membawa sedikit makanan yakni sekitar setengah liter atau setengah mud dia ingin menghadiahkan kepada Syekh Abu Bakar bin Salim. Ketika sampai wanita tersebut kepada pembantunya Syekh Abu Bakar Bin Salim, pembantunya berkata, “ Apalah artinya hadiah yang kau berikan ini? Tidakkah kau tahu setiap harinya kami memasak hingga seribu potong roti untuk para tamu-tamu kami?” maka tidak disangka-sangka datang Syekh Abu Bakar bin Salim, beliau turun dari tangga terdengar suaranya turun menemui wanita tersebut. Langsung beliau berkata kepada wanita tersebut, ”Engkau datang ketempat ini wahai ibu karena Allah, dan engkau bermaksud kepada saya, engkau menuju kesaya karena Allah SWT. Berapa banyak langkah yang engkau langkahkan didalam perjalananmu menuju kemari, semuanya adalah pahala dari Allah. Dan engkau menyiapkan hadiah yang mulia ini. Berapa butir dari gandum yang engkau hadiahkan kepada saya? Tiap butirnya betapa besar pahalanya disisi Allah SWT.” Maka diangkat dan diterima hadiah tersebut oleh Syekh Abu Bakar bin Salim,  menjamu dan menghormati wanita tersebut. Dan dia keluar dari rumahnya dalam keadaan gembira.

Dan beliau pun menegur pembantunya dan berkata, “ Jangan sekali lagi kau berucap kalimat seperti tadi kepada siapa pun. Ketahuilah bahwasanya kami tidak menyaksikan yang memberi kepada kami semata-mata hanya Allah SWT. Apa pun yang sampai kepada kami melalui tangan hamba-Nya banyak ataupun sedikit pada hakikatnya pemberinya adalah Allah SWT.  Sesungguhnya Allah mengganjar mereka sesuai dengan niat mereka, apabila ikhlas karena Allah SWT”. Beliau juga mengatakan, “Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, yang banyak nggak akan datang kepadanya.” Dan ini adalah lambang, warisan yang beliau bawa dari Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam riwayat hidup beliau, bahwasannya beliau mengagungkan, menghormati  nikmat Allah yang diberikan walaupun sedikit. Suatu ketika beliau melihat ada sedikit makanan terjatuh dilantai, dibiarkan begitu saja beliau angkat dan beliau berkata kepada istrinya Siti Aisyah,  “Hendaknya engkau mensyukuri menjaga nikmat yang dikaruniakan Allah SWT, sebab apabila nikmat tersebut diambil oleh Allah SWT  akhirnya tidak  kembali lagi.”

Ketika beliau memiliki kesungguhan kepada Alah SWT,  ingin memberikan manfaat kepada hamba-hamba Allah SWT maka beliaupun membawa pengaruh besar bagi lingkungannya dan bagi orang-orang di sekelilingnya. Hingga beliau mengatakan, “seandainya datang kepada saya seorang Badui yang tidak terpelajar, tapi dia punya kesungguhan ingin sampai dan mengenal kepada Allah SWT, dalam  sesaat akan saya buat dia sampai dan mengenal Allah SWT”.

Hingga disebutkan dalam riwayat bahwa pandangan seorang mukmin, apabila ia memandang, menatap wajah mukmin yang lain, menatap dengan penuh rahmat dan kasih sayang, maka ini adalah suatu pahala yang amat besar disisi Allah SWT.

Adapun apabila seorang mukmin memandang seorang mukmin yang lebih istimewa, dari pada wali-wali Allah SWT, maka ini adalah ramuan yang mujarab yang membuatnya dekat dengan Allah SWT.

Sehingga dikatakan para ulama, “Barang siapa tidak melihat wajah orang-orang yang beruntung bagaimana ia dapat menjadi orang yang untung”. Dan barang siapa menatap wajah orang beruntung dengan ikhlas karena Allah SWT bagaimana ia tidak untung, pasti untung.

Dikatakan oleh Syekh Abu Bakar Bin Salim, “Ini adalah karunia yang engkau dapatkan apabila engkau melihat kepada para awliya. Adapun apabila wali tersebut yang melihat engkau tak bisa dibayangkan karunia yang akan kau dapatkan.”

Pernah dalam suatu kejadian, ketika di sebuah negeri di musim paceklik lama hujan tidak turun, mereka sholat istisqo minta hujan sekali, dua kali tidak juga turun hujan sampai tiga kali. Ketika kebetulan datang satu orang ditempat tersebut melihat kesusahan manusia dan dia berkata sebelum orang-orang tersebut sholat istisqo, “Ya Allah demi apa yang ada didalam kepala saya ini maka saya meminta kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada manusia.” Dan  turun hujan saat itu juga.

Maka keesokan harinya dicari orang tersebut yang berdoa dan bertawasul yang berkatnya negeri jadi turun hujan. Ditanya , “memangnya apa yang ada didalam kepalamu hingga engkau bertawasul dengan apa yang ada didalam kepalamu?”. Dijawabnya, “sesungguhnya apa yang ada didalam kepala saya ini ada dua bola mata yang pernah melihat wajah Abu Yazid Al Bushtomi dengan berkat itu Allah turunkan hujan”.

Disebutkan bahwasanya Imam Umar al-Mukhdor bin Syekh Abu Bakar, putranya Syekh Abu bakar Bin Salim beliau berkata, “Saya tidak rela murid saya yang paling rendah kalau kedudukannya, bagiannya sama dengan Abu Yazid Al Busthomi. Saya tidak puas dan tidak ridho”. Kalau anaknya seperti ini bagaimana dengan sang ayah, Syekh Abu Bakar bin Salim?  Berapa banyak dengan berkat beliau Allah SWT mendamaikan antara orang lain, satu sama lain beliau mendamaikan orang dan orang juga damai berkat beliau.

Dan  di dalam hadis Nabi Muhammad SAW ada dalil yang membuktikan betapa besar pengaruh dari pandangan ini dan melihat penglihatan ini. Disebutkan bahwasanya Rasulullah SAW berkata, “kelak barang siapa seseorang berperang dijalan Allah SWT ditanya mereka satu sama lain,  ‘Adakah diantara kalian yang pernah melihat Rasulullah?’, mereka bilang, ‘ada, fulan,fulan dan fulan’”. Dan dengan itu mereka meraih kemenangan.

Kemudian datang generasi berikutnya ditanya, “apakah ada diantara kita orang-orang yang bertempur berjihad ini orang-orang yang pernah melihat manusia yang pernah melihat Rasulullah SAW? Maka dikatakan, “Ada fulan dan fulan pernah melihat sahabat Nabi Muhammad SAW”. Maka bertawasul dengan orang-orang tersebut dan Allah SWT memberikan kemenangan kepada mereka.

Kemudian juga datang lagi generasi berikutnya, ketika seseorang dalam waktu suatu jihad dan pertolongan lambat, mereka tidak berhasil meraih kemenangan karena terlalu lambat, hingga akhirnya bertanya diantara mereka, “Adakah ada diantara kalian yang pernah melihat orang yang pernah melihat orang yang pernah melihat sahabat yang pernah melihat Nabi Muhammad SAW?”.

Dan disebutkan juga dalam riwayatnya ada seorang ulama besar Imam besar dari Mekah yang datang kepada Sayidina Syekh Abu Bakar bin Salim dengan niatnya beliau dan akhirnya Allah SWT dengan berkat Syekh Abu Bakar Bin Salim diampunkan hal-hal yang terjadi antara dia dengan istrinya.

Ketika orang ini datang dengan niat ini kepada Syekh Abu Bakar bin Salim di Inat, baru masuk kamar baru berjumpa dengan Syekh Abu Bakar bin Salim langsung disambut oleh Syekh Abu Bakar,         “Selamat datang wahai Al Bakri, sesungguhnya saya telah memperbaiki segala macam kekacauan yang terjadi antara kau dengan istrimu, sudah beres semuanya”.

Kemudian disajikan kopi kepada mereka yang ada di majelis itu, kemudian diambil satu cangkir kopi oleh Syekh Abu Bakar bin Salim, dikeluarkan melalui jendela maka ketika kembali tangan tersebut cangkir kopi sudah tidak ada lagi entah kemana. Kemudian Syekh Abu Bakar bin Salim berkata, “Wahai Abdurrahim (Ulama Mekah ini) Insya Allah Allah SWT akan memberikan kebaikan kepada istrimu kepada keluargamu dan kelak ia akan mengandung seorang putra yang menjadi ulama besar di Mekah dan namakan anak tersebut Umar”.

Dan ketika dia pulang ke negerinya Mekah ia dapati istrinya baik,  berubah jauh, urusannya  beres semua, dan ia bertanya,” Apa yang terjadi hingga engkau menjadi baik seperti ini?”. Maka istrinya mengeluarkan cangkir kosong, “Tadinya dicangkir ini ada kopinya, datang beberapa waktu yang lalu seorang tua yang demikian indah membawakan saya cangkir berisi kopi ini, saya  minum langsung berubah saya punya hati”.  Maka dia lihat cangkir tersebut keika diperhatikan ia berkata, “ini adalah cangkir yang dipegang Syekh Abu Bakar bin Salim di Inat”.

Lalu dia bertanya, “kapan kau dapatkan cangkir ini dari orang tua tersebut?” lalu dijawab, “waktunya sekian, tanggal sekian, jam sekian,hari sekian.” Ketika diingat-ingat betul hari itu adalah hari ketika saya bersama Syekh Abu Bakar Bin Salim diruangannya. Ditanya, “seperti apa orang yang datang membawakan kopi?”.  Setelah disifati oleh istrinya ia berkata, “Dia adalah Syekh Abu Bakar Bin Salim”.

Kemudian dia berkata, “Demi Allah waktu yang engkau sebutkan itu aku bersama Syekh Abu Bakar bin Salim diruangannya di Inat sana dan di mengambil secangkir kopi dia keluarkan dari jendela dan keluarkan tangannya dari jendela itu dan kembali dalam keadaan kosong.

Diriwayatkan bahwasannya seorang hamba Allah SWT beliau memindahkan kursi singgasananya Ratu Balqis dari Yaman kehadapan Nabi Sulaiman.as. Dan singgasananya Ratu Balqis lebih besar daripada cangkir kopi. Dan wali dari umat Nabi Muhammad SAW lebih hebat dari wali dari umatnya Nabi Sulaiman.

Dan wanita tersebut melahirkan seorang putra dengan berkat Syekh Abu Bakar bin Salim bernama Umar bin Abdurrahim yang menulis kitab Ilmu fiqih yang luar biasa dan menjadi ulama besar di Mekah.

Dan kita sekarang di dalam perkumpulan majelis ini mari kita berdoa kepada Allah SWT dengan berkat Syekh Abu Bakar bin Salim, Allah SWT Insya Allah memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dan orang-orang yang punya hak yang besar terhadap kita sekalian, makhluk-makhluknya Allah SWT, mudah-mudahan Allah SWT membantu kita didalam memperbaiki hubungan kita dengan mereka semuanya. Dan mudah-mudahan Allah SWT memberikan keridhoanNya kepada kita sekalian agar Allah SWT mengampuni kita semua.

Alhamdulillah atas nikmat yang demikian besar ini, taufik yang Allah berikan kepada kita sekalian ini semuanya yang Allah SWT berikan dengan berkat shohib musnid  yang telah membantu terwujudnya acara hari ini. Dan keberkahan dari perkumpulan kita ini, Ya Allah akan kembali dan mencapai semua yang hadir dan lingkungan kita, kota kita, negeri kita dan seluruh kaum muslimin dimanapun mereka berada dengan berkat majelis ini. sebab yang kita minta yang kita panggil namanya tadi adalah Allah Yang Maha Agung Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar, yang mana Allah SWT menciptakan segala-galanya.

Dan inilah kita datang kepada Allah SWT melalui pintu orang yang dicintai dan mencintai Allah SWT. Maka bersungguh-sungguhl ah berdoa kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita yang lampau. Dan Allah SWT menjaga kita dari perbuatan dosa dalam umur kita yang selanjutnya ini.  Dan orang-orang yang kini telah meninggal dunia,  yang tidak hadir ditempat ini, daripada anak kita, keluarga kita, orang tua kita, kerabat kita, semoga Allah SWT mengangkat derajat mereka dan mengampuni mereka sekalian.

Dan semoga Allah SWT mudah-mudahan memberikan keberkahan dalam sisa hidup kita ini dan memberikan kita khusnul khotimah. Kemudian setelah wafat mudah-mudahan Allah SWT mengumpulkan kita bersama wali-wali, bersama kaum sholihin, bersama Sayidina Syekh Abu Bakar Bin Salim, Ya Allah berdekatan dengan Nabi Muhammad SAW.

Mintalah kepada Allah Yang Maha Penyayang dan bersungguh-sungguh lah dalam berdoa dan memanggil kepada Allah SWT. Dan memohonlah kepada Allah SWT dengan sesungguh-sungguhny a sebab Allah SWT menyukai orang yang bersungguh-sungguh didalam memohon kepada Allah SWT. Berdoalah dengan hati kita, lidah kita dan seluruh jiwa kita memanggil nama,  “Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah…..”

sumber: alkisah.web.id  sabtu. 6.02.2010

Popularity: 7% [?]

MENELUSURI JEJAK SALAF MERANGKAI TAULADAN


بسم الله الرّحمن الرّحيم

قال رسول الله صلّى الله عليه وآله وصحبه وسلّم: لاتجلسواعندكلّ عالمٍ الاّالى عالمٍ يدعوكم من الخمس إلى خمس, من الشّكِّ إلى اليقين ومن الرّياءإلى الإخلاص ومن الرّغبة إلى الزّهد ومن الكبر إلى التّواضع ومن العداوة إلى النّصيحة

Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu duduk disisi orang alim, kecuali orang alim yang mengajakmu dari lima perkara kepada lima macam perkara:

  1. Dari keraguan kepada keyakinan
  2. Dari riya` kepada ikhlas
  3. Dari suka(cinta) dunia kepada Zuhud(cinta akhirat)
  4. Dari kesombongan kepada kerendahan diri (Tawadhu`)
  5. Dari permusuhan kepada nasehat.

(HR.Jabir RA, Ihya `Ulumuddin 1/62)

Siapa sesungguhnya salaf?, bagaimana mereka?, kini masyarakat telah lalai dari apa yang telah mereka lakukan, bahkan rasa ingin tahu terhadap mereka sudah tidak begitu terlintas.

Salaf berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya adalah: telah lalu. Kalimat yang berbunyi al-qaum as-sullaaf, artinya kaum yang terdahulu. Bentuk jamaknya adalah aslaaf dan sullaaf. Kata Salaf juga bermakna: seseorang yang telah mendahului (terdahulu) dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Kaitannya dengan hadits diatas, Salaf adalah orang-orang meneladani akhlak dan sunnah Rasulullah SAW. Al Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al habsy berkata dalam sebuah syairnya: “ Dalam beramal dan menahan diri, ikutilah jejak mereka tapak demi tapak, berkat salafmu, engkau kan mendapat manfaat banyak, luas, agung, dan mulia budi pekerti mereka, tak akan pernah kau dapati, perselisihan dan pertentangan dalam thariqohnya”.

Popularity: 2% [?]